Selasa, 01 Oktober 2013

[Curhat] Menghadapi Langkah Terakhir Mendapat Gelar Sarjana

Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT. Karena telah berbaik hati memperbolehkan saya menarik nafas hingga saat ini, dengan gratis tentunya. Hari ini, adalah hari dimana saya merampungkan tugas akhir saya menjadi mahasiswa yaitu menyusun skripsi. 

Ya, tepat beberapa menit yang lalu saya telah menyelesaikan 103 halaman microsoft word yang saya tulis sambil duduk dan ada juga yang sambil berbaring.

Hampir 1 tahun saya perlukan untuk menyelesaikan  karya terbesar saya ini dalam hal tulis menulis. Mulai dari bulan November 2012 ketika saya mendapat kabar dari salah satu dosen terbaik di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Siliwangi bahwa beliau menjadi pembimbing 1 saya. Hingga saat ini, detik ini 01 Oktober 2013, dan mungkin masih akan berlanjut untuk beberapa hari kedepan.

Perjalanan menyusun skripsi yang sungguh tidak mudah dan memang akan selalu tidak mudah untuk siapa saja yang telah, sedang atau akan menyusun skripsi. Karena bukan skripsi namanya kalau mudah untuk dikerjakan.

Banyak hal yang membuat proses skripsi ini menjadi begitu panjang, mulai dari kegiatan akademik yang sebenarnya tidak terlalu mengganggu, tapi karena si malas jadilah faktor ini disebut menganggu. Selanjutnya ada kegiatan menemukan hobi baru dalam seni mengolah cahaya yang juga sama tidak mengganggunya dengan kegiatan akademik, dan kembali karena si malas jadilah ini mengganggu. Faktor teknis, dimana si netbook “maroon” saya sempat koleps akibat terlalu banyak di cekoki virus, lagi-lagi faktor teknis ini menjadi pengganggu karena si malas, yang membuat saya enggan untuk beranjak ke warnet atau rental komputer, padahal ada banyak sekali warnet di sekitar tempat saya tinggal. Faktor lain adalah cuaca, karena penelitian saya ini membahas tentang pencemaran lingkungan hingga harus menunggu musim hujan berhenti untuk melakukan penelitian, dan ketika musim hujan berhenti kembali si malas menghampiri dan kembali sukses memperlambat skripsi saya untuk bisa selesai.  Masih banyak sebetulnya gangguan yang ada ketika menyusun skripsi ini. Tapi mungkin tidak akan muat untuk dijelaskan, dan mungkin saya akan kehabisan ide untuk menjelaskan bagaimana gangguan itu bisa disebut mengganggu. Tapi karena saya baik, akan saya berikan bocoran bahwa yang selama ini mengganggu perjalanan skripsi saya itu adalalah si MALAS !!! Ya, si malas lah yang selama hampir satu tahun ini membuat semua gangguan itu menjadi benar-benar mengganggu. Arrrrgggghhhhhh !!!!

Untungnya saya bisa segera sadar dan mengusir si malas jauh-jauh dari diri saya. Hingga akhirnya, tersusunlah sebuah mahakarya dari mahasiswa yang mahabodoh, maha tidak tahu apa-apa, maha tidak bisa apa-apa.

Kenapa bisa selesai? Karena ada keluarga, kerabat, sahabat, teman, pembimbing, dosen, supir angkot, pedagang sayur dan tetangga yang memberikan saya motivasi untuk mau belajar, mau mencari tahu segala hal dan menyusun skripsi ini tentunya dengan cara mereka masing-masing. Ya, karena merekalah sekarang saya bisa sampai pada kenyataan bahwa saya harus bersiap menghadapi ujian terakhir yang sebetulnya tidak ada ujian terakhir untuk manusia karena selama masih hidup akan selalu ada ujian yang datang menghadang.

Yah, untuk terakhir kalinya saya ucapkan jika sebentar lagi saya akan menghadapi ujian terakhir di masa kuliah saya. Yaitu SIDANG SKRIPSI…  Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya mohon do’a dan dukungan dari teman-teman kompasiana, yang kebetulan membaca tulisan saya ini. Agar sidang skripsi saya ini berjalan dengan lancar, do’akan agar saya tidak kembali tergoda oleh rayuan MALAS yang begitu rajin mendatangi pintu rumah, do’akan agar saya mampu mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis dalam mahakarya saya dan terakhir do’akan agar saya selalu diberi kesehatan.

Ini yang terakhir, paling terakhir. Saya do’akan semoga kawan-kawan yang sedang menyusun skripsi diberikan kemudahan dan dijauhkan dari si MALAS yang bisa mengakibatkan gangguan dan keterlembatan dalam penyelesaian skripsi. Kawan-kawan yang akan menyusun skripsi saya hanya menyampaikan apa yang dosen pembimbing saya sampaikan jika  “DALAM MENYUSUN SKRIPSI ITU TIDAK ADA MAHASISWA BODOH DAN MAHASISWA PINTAR, YANG ADA HANYA MAHASISWA RAJIN DAN MAHASISWA MALAS”

Sekian curahan hati saya, semoga berkenan untuk membuang hal-hal yang tidak baik dan menerima yang baik. Terima kasih atas do’a dan dukungannya.

“JEJAK, KERINGAT, AIR MATA, LUKA, ASA, HARAPAN SERTA DO’A AKAN MENJADI SAKSI BAHWA KITA LAYAK MERAIH MIMPI”

Selamat menjalani hari-hari anda. 

Kamis, 13 Juni 2013

Allahuma Yassir Wala Tu'assir

Ketika jantung berdegup tak menentu. Ketika kekhawatiran menghantui hari-hari. Ketika hidup terasa jauh lebih sulit. Ketika tujuan dan cita terasa semakin jauh. Ketika senyum tak dapat lagi tersungging. Ketika tawa menjadi membeku bisu. Ketika canda terasa hambar tak membantu. Ketika lelah terasa di luar nalar. ketika ketakutan begitu merajarela. Ketika ketidakpastian tiba-tiba menjadi kawan. Ketika kegagalan terlihat di ujung mata. Ketika daya tak lagi berupaya. Ketika diri tak sanggup lagi berlari, dan ketika sekeliling terlihat menjauh pergi. Tapi, yakinlah Alloh tetap disisi. Mendengar setiap jeritan hati. Melihat setiap tetes keringat yang menetes, dan Mempertimbangkan setiap usaha.
Maka.. Berdoa sebisa-bisa yang kamu bisa. Menjerit, sekeras yang kamu punya melalui lantunan doa. Berusaha, 1000 kali lipat lebih dari apa yang kamu usahakan sekarang. Bertawakal, pasrahkan kepada Dia yang mengatur kehidupan semesta. "Allahuma yassir wa laa tu'assir. Ya Allah, mudahkanlah jangan dipersulit"

Jangan Biarkan “Kebiasaan” Itu Mengubah Nurani"


Cileunyi. Siang hari yang mendung.
Di jalan sempit berbatu di tepian persawahan yang tidak lagi menghampar, mataku menatap sebuah penggalan hidup.
Seorang pria menjelang tua berdiri terrtegun. Pandangannya kosong. Wajahnya diliputi kekhawatiran – sedikit menunjukan rona menangis – pasrah.Tangannya tetap tidak lepas dari gerobak yang rasanya dari tadi didorongnya. Entah dari mana. Gerobak besi berdinding seng. Kosong. Tanpa barang-barang jualan atau barang-barang belanjaan. Hanya segelintir sampah plastik bekas air minum kemasan tergeletak di dalamnya.
Ternyata gerobak itu tidak kosong.Tiga makhluk Allah mungil ternyata duduk di dalamnya. Semua dalam diam. Tanpa ocehan. Tanpa keceriaan. Hanya wajah polosnya masing-masing.
1371044851666362888Yang besar memunggungi ayahnya. Cowok. Harusnya duduk di kelas tiga atau empat SD. Matanya selalu menatap ke depan. Dan di depannya, duduk adiknya - mungkin. Wajahnya juga polos. Dengan duduk bersila putri, dia bersender ke dinding gerobak sebelah kiri. Umurnya ditaksir seusia anak SD kelas satu atau dua. Dan di atas pangkuan anak sekecil itu, tergolek makhluk lainnya: mungil balita. Tertidur pulas. Kepalanya bersandar di dada dan ketiak anak kecil yang sangat mungkin adalah kakaknya. Tidurnya nyenyak, senyenyak seorang bayi tidur di pangkuan ibunya. Tidurnya nyenyak, karena anak kecil itu pun memangku adiknya dengan cara memangku seorang dewasa.
Trenyuh. Pemandangan yang memberi banyak warna. Banyak makna. Kesedihan. Kemiskinan, Keprihatinan. Kepolosan. Ketegaran atau kesabaran atau bahkan kepasrahan.
“Aaargh…..itu hanya sandiwara” – sebuah suara tanpa kata mengiang di telinga.
“Itu tipuan saja. Seringkali kau lihat di Bintaro Jaya. Apalagi saat puasa. Itu sandiwara” – suara itu muncul lagi,
“Lihat di sudut sana. Ada orang dewasa. Maen hape, merokok pula. Mereka memanfaatkan rasa iba”.
Langkahku mendekati gerobak itu terhenti.
“Tapi…..”. Lalu kumantapkan langkahku mendekati gerobak itu.
Saat itu, sebuah suara lembut yang pernah saya dengar dulu, kembali terdengar di telingaku, di hatiku, di batinku.
“Tugas kita berbuat baik. Tugas kita bersedekah. Jika mau bersedekah, SEDEKAHLAH. Jangan biarkan pikiran yang terlalu jauh mencegahmu untuk bersedekah. Janganlah kata-kata “mungkin saja dia…”, “bisa jadi dia…” menahanmu bersedekah. Bersedekahlah. Ikhlaslah. Dan biarkanlah Allah yang kemudian “berbicara”.
####****
Kawan. Jangan sampai sebuah peristiwa atau pemandangan yang menjadi biasa mengubah nurani kita

Kuliah Online Muda Mulia : Akibat Salah Jalan

Kejadian ini kira-kira berlangsung sebulan yang lalu. Saat itu Saya dan Mas Arief Faizun berkendara menuju Jakarta untuk mengisi kelas mentoring bisnis The Runners.  Kelas The Runners Jakarta terjadwal rabu malam jam 19.30 sampai dengan jam 22.00. Saya meluncur dari Bandung pukul 14.00, biasanya Kami sampai di tempat pelatihan jam 17.00. Namun kali ini kejadiannya berbeda. Saya terlambat sampai ke tempat acara.  Setelah Kami melalui gerbang Tol Cikarang Utama, Sahabat Saya mendadak membutuhkan toilet. Saya tentu tidak perlu menjelaskan mengapa ia membutuhkannya. Heheheh… akhirnya, Kami pun memutuskan untuk memilih gerbang tol keluar terdekat.  Urusan “hajat” sudah tunai, Kami berniat kembali ke Tol menuju Jakarta. Dengan pedenya Kami menempuh jalan yang kosong, sementara di sisi sebelah kiri Kami, mobil macet berdesak-desakan, Kami memilih jalur yang sepi, wuusshh.. lancar.  Namun setelah Kami kembali ke jalan TOL, betapa terkejutnya Kami, ternyata jalur yang Kami pilih adalah ruas TOL yang menuju ke cikampek, bukan ke Jakarta. Kami salah jalan.. terpaksa Kami harus keluar di gerbang cikarang, untuk kemudian memutar arah kembali menuju Jakarta.  Kami kira, Kami cukup menempuh beberapa menit untuk berputar, karena memang lokasi Kami tidak jauh dari gerbang cikarang, namun ternyata, Kami harus menempuh kemacetan yang luar biasa, total waktu yang dibutuhkan untuk memutar arah ternyata hampir 2 jam. Dan tebak.. Sesampainya di tempat pelatihan, waktu telah menunjukkan jam 20.45. Kami terlambat hampir 4 jam dari jadwal yang semula dijadwalkan.  ***  Saya mulai merenungi kejadian ini. beginilah rasanya salah jalan. ada waktu yang terbuang, ada energi yang terbuang, ada perasaan lelah yang tumpah begitu saja.  Kami berdua harus berjalan menyemut saat memutar arah. Sebuah energi yang benar-benar terbuang untuk sesuatu yang seharusnya tak perlu Kami lewati. Dan dampaknya pada keberjalanan rencana Kami, peserta terbengkalai, untunglah mereka sabar menunggu, Saya benar-benar malu dan meminta maaf kepada mereka, alhamdulillah mereka memahami. Semoga.  ***  Inilah yang Saya ingin bagi kepada sahabat Kuliah Online MudaMulia. Kebanyakan kita merasa bahwa salah jalan adalah perkara yang biasa. Kita merasa bisa kembali dengan cepat. Kita merasa masih banyak waktu yang kita miliki. Terutama kita anak muda, rasanya terlalu dini untuk menjadi orang baik, terlalu dini untuk menjadi sholih, terlalu dini untuk menempuh jalan yang benar. puas-puasin saja dahulu, rasakanlah semua jalan yang salah.. toh masih banyak waktu untuk kembali.  Sahabat, Saya ingin berbicara kedalam hati Anda, salah jalan bukanlah perkara yang menyenangkan. Ketika Anda salah Jalan, ada berbagai konsekuensi negatif yang Anda harus rasakan..  Pertama, Waktu Anda terbuang. Ketika di usia 21 Anda salah jalan, anggap sampai usia 23, maka Anda sudah membuang 2 tahun dalam ketersesatan. Ketika Anda memutuskan untuk kembali, walau jalan taubat itu terbuka, tapi ada sunnatullah yang harus Anda jalani, yaitu.. Anda harus menempuh rute lebih panjang, karena Anda tadinya terlalu jauh dari jalan yang benar.  Kedua, energi Anda terbuang. Perkara tadi Saya berkendara, bensin Saya terbuang. Lalu bagaimana dengan kehidupan Anda, atau kehidupan kita. Ketika kita salah jalan, kita membuang energi kehidupan kita. pasti lelah, Andaipun kita ingin kembali.. kita memerlukan energi yang tidak sedikit.  Ketiga, uang Anda jelas terbuang percuma. Ketika Anda melangsungkan kehidupan, pastilah Anda menghabiskan uang, minimal untuk bertahan hidup. Dan ketika Anda menempuh hidup yang salah, tak jarang uang Anda terbuang pada jalan yang tak seharusnya.  ***  Tulisan ini bukan bermaksud menakut-nakuti  Anda yang akan bertaubat. Jika Anda ingin kembali ke jalan yang benar, kembalilah segera. Justru tulisan ini berniat untuk mempercepat kembalinya Anda  ke jalan yang benar.  Manusia dicipta diatas fithrah, Ia pada dasarnya baik. sehingga Saya meyakini, bahwa hati Anda dapat merasakan, apakah kehidupan Anda sedang berada di jalan yang benar atau tidak.  Bagi sahabat yang telah menyadari, bahwa dirinya telah mengambil jalan yang salah, segeralah mencari jalan memutar, kembalilah ke jalan yang benar. putar arah. Semoga bermanfaat. []   
Rendy Saputra 
Self Developer    
Ngobrol bareng Kang Rendy dengan mention @kangrendy di twitter  Jika Sahabat merasakan kebermanfaatan dari Kuliah Online MudaMulia ini, dukung layanan ini dengan meneruskan artikel ini ke sahabat Anda yang Anda kasihi. Terima Kasih.

Kamis, 30 Mei 2013

Memungkinkan Apapun yang Tidak Mungkin (Edisi Skripsi)

"Bos, besok hari Rabu kita UP."
"UP? Rabu? Ngedadak pisaaaannnnn. -,-"
Seperti itulah percakapan saya dan teman saya yang terbentuk dalam satu tim penelitian. Saya memang selama satu minggu setelah presentasi magang menghilang dari peredaran dari yang namanya kampus, tapi rupanya teman satu tim saya ini tidak mengikuti jejak saya untuk menghilang dari peredaran. Dan akibatnya adalah UP dadakan.
Tanpa banyak cingcong, saya pun langsung membujuk skripsi saya agar mau berdamai setelah satu bulan setengah saya tinggalkan. Kurang bersahabat memang awalnya karena terlalu lama di tinggalkan dan membuat saya lupa konsep penelitiannya. Tapi bukan saya namanya jika tidak bisa menyelesaikan. Dengan beberapa hari PDKT akhirnya saya sepakat untuk mengganti judul penelitian, hanya merubah redaksinya saja sebetulnya intinya tetap itu-itu sajah. Dengan beberapa kali bimbingan saya pun siap UP, sebenarnya disiap-siapkan untuk UP. Tapi akhirnya UP di undur jadi hari Senin tanggal 27 Mei, menunggu waktu saya baca-baca lagi skripsi saya dan merasa agak ganjil dengan judul skripsi saya, dan akhirnya ganti judul lagi. Salah deng, lebih tepatnya ganti redaksi judul, bimbingan lagi dengan sedikit revisi. Alhamdulillah.
Saya merasa semakin yakin saya siap untuk UP, draft presentasi telah saya susun, pembuatan slide cukup maksimal, untuk pemahaman isi, yah rasanya tidak perlu diperdalam lagi cukup baca selewat dua lewat juga bisa. Karena memang konsep penelitian saya yang cukup sederhana.
Hari Senin, tanggal 27 Mei 2013 pukul 19.32 WIB saya telah stanby di parkiran kampus, berbekal roko dan perut lapar saya membaca ulang materi presentasi saya. Mulai datang ragu dalam pikiran saya, karena ternyata banyak sekali teori yang saya tidak tahu dalam penelitian saya ini. Tapi karena berdasarkan pengalaman saya selama kuliah, terhitung tidak pernah gagal dalam presentasi. Jadi saya yakin akan bisa menjawab pertanyaan teman-teman dan dosen pembimbing saya.
Pukul 08.15 dosen pembimbing dua saya memanggil dan bilang untuk segera mempersiapkan.
Teman satu tim saya sudah siap dengan pakaian hitam putihnya, saya juga sama, namun bedanya dia tampak lebih menguasai materi presentasi. Keraguan datang lagi. Tapi segera hilang.
"Galih, silakan disiapkan bahan presentasinya"
"Iya bu.."
Notebook, hardcopy proposal dan konsumsi saya bagikan kepada pembimbing dan peserta. Slide saya buka, Bissmillahirahmannirrahiim. Presentasi saya pun dimulai. Alhamdulillah lancar walaupun agak pabuliwet gegara ragu-ragu.
Pertanyaan dari peserta bisa saya jawab dengan cukup baik. Alhamdulillah. Giliran tanggapan dari pembimbing.
Pertama pembimbing dua memberikan sedikit revisi untuk saya, ya sangat amat sedikit. Tanpa sanggahan, tanpa pertanyaan. Alhamdulillah.
Pembimbing satu saya mulai buka suara, dimulai dengan sedikit pujian. Tapi kemudian? entahlah saya hanya bisa diam, mengangguk, dan berkata "maaf pak, saya tidak tahu untuk hal itu." begitu berulang kali. Ya, saya telah habis di preteli dengan pertanyaan-pertanyaan seputar konsep penelitian, apa yang saya harapkan dan apa yang saya lakukan dalam penelitian ini. Padahal harusnya dengan saya menganggap konsep penelitian ini sederhana saya bis menjawab pertanyaan-pertanyaan beliau. Tapi saya gagal dan tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan beliau. Air muka saya mulai berubah, tangan saya sedikit gemetar dan bibir saya mulai kaku untuk melakukan pembelaan.
Sakit hatikah? iya.
Ngenes? iya.
Ngedrop? iya.
Stress? pasti.
sakit hati, tapi bukan pada dosen pembimbing saya, ngenes, tapi bukan karena dosen saya, ngedrop karena memang lemahnya mental saya, stres karena memang saya kebingungan.
Ya, itulah hasil Ujian Proposal penelitian saya, meskipun masih bisa untuk tersenyum dihadapan teman-teman saya. Tapi dalam hati saya marah. Marah pada diri saya sendiri, kenapa bisa begitu sombong, padahal tidak ada yang bisa disombongkan, kenapa bisa santai padahal banyak yang harus dilakukan ketika mempersiapkan ppresentasi, kenapa sampai tidak bisa mencerna maksud dari dosen pembimbing saya ketika bimbingan dulu. Arrrggghhhh...
satu hari saya lalui dengan berbagai keluhan akibat kesalahan yang saya lakukan sendiri. Satu hari kemudian, saya mulai bisa tenang, dan menyadari bahwa semua terjadi karena memang kesalahan saya, dan harus segera saya perbaiki.
Ada seseorang yang berkata bahwa jadi orang itu jangan so', sebisa-bisanya kamu tetep harus belajar, sejago-jagonya kamu tetep harus dilatih, setahu-tahunya kamu tetep harus cari tahu, karena selalu ada mungkin dalam setiap tidak mungkin sekalipun.
Ya, itulah kesalahan terbesar saya. Terlalu so', terlalu menganggap mudah. Membuat saya sadar, penelitian itu tidak sesederhana bermain gaple, tidak semudah bermain poker, penelitian itu tidak pernah ada yang mudah. Dan saya telah terlalu sombong untuk mengatakan penelitian saya mudah, sederhana mungkin iya, tapi mudah? mungkin tidak. Karena perlu banyak belajar, perlu banyak pemahaman, perlu banyak pertimbangan untuk melakukan suatu penelitian.
Terima kasih untuk Pak Andik dosen pembimbing satu saya yang telah membuka jalan pikiran saya. Dan sekarang, saya menjadi saya yang baru, saya yang berusaha untuk tidak so', dan selalu memungkinkan apapun yang tidak mungkin.

Skripsi itu menyenangkan kawan, nikmati prosesnya.
Selamat bersenang-senang dengan penelitian kalian. :D

Cerita Magang

Hoollaaaa.. Assalamualaikum kawan, sudah lama tidak menampakkan diri di blog ini.  Saya lihat terakhir saya menampakkan diri itu 2 minggu yang lalu, itupun dengan menggunakan penampakkan orang lain, bukan saya sendiri a.k.a copas. he
Memang akhir-akhir ini saya disibukkan dengan urusan yang sedikit penting. Refreshing. Ya, setelah sejak tanggal 1 April hingga tanggal 5 Mei kemarin disibukkan dengan kegiatan magang di PT. PINDAD Bandung.
Memang tidak terlalu sibuk sih, hanya saja tinggal di Kota Kembang ini membuat saya harus benar-benar membatasi pengeluaran saya. Sehingga harus menahan diri untuk bercengkrama dengan internet.
Ada banyak kegiatan yang harus saya jalani disaat magang, banyak kejadian-kejadian tak terduga juga selama saya tinggal di Kota Kembang ini.
Mulai dari berputar-putar mencari alamat PT. PINDAD dengan pengetahuan yang minim akan jalanan kota bandung, di lempar kesana kemari ketika membuat perizinan untuk magang, tepar gara-gara menghajar jalanan Ciamis-Bandung-Ciamis di hari yang sama, menerjang hujan untuk mengantarkan barang-barang bawaan hingga semua barang basah kuyup Ciamis-Tasik makan waktu 4 Jam broowww yang biasanya cuma 1 jam. Berebut proporsi bimbingan dengan keberangkatan magang, kenalan sama anak-anak absurd dari SMK Sumedang, tetanggaan sama anak-anak SMK Banjar yang sepertinya hobinya ngamen diterminal tiap malam main gitar dan teriak-teriak, kenalan sama pegawai PT.PINDAD, dibuat bingung sama satpam perusahaan yang akrab banget sama yang namanya detector logam lantaran terus-terus bunyi pas ngecek badan saya, padahal yang bikin bunyi Cuma duit 500 rupiah sajah. -,-. diusir satpam gegara kartu nama ketinggalan, masuk tempat produksi 10 menit tapi uda bisa bikin helm safety yg warna putih jadi abu-abu, masuk daerah terlarang perusahaan yang Cuma boleh dilewatin sama panser, boncengan pake sepeda ontel keliling komplek perusahaan yang luasnya 30 hektar lebih, kabur dari tugas pas ujan gede dengan alasan  kosan bocor padahal pengen tidur hehe, ijin pulang kampong pake alasan bimbingan padahal uda abis duit, nyasar ke terminal ledeng, naek angkot 2 jam g turun-turun, bingung nyari pintu masuk BSM, liat sepatu yang harganya diatas satu juta padahal kaya sama ajah sama yang di jual di dadaha 100ribuan, foto-foto di jembatan penyebrangan, dijailin bocah-bocah umur 3 tahun, nimbun gelas kopi ibu kosan nyampe ditagih ke kamar, ngikut mandi di kamar tetangga, kelaperan tengah malem gegara lupa nyetok makanan, masuk sarang penyamun di perempatan lampu merah, hujan-hujanan dari Bandung nyampe Tasik tanpa jas hujan tanpa jaket, salah bawa celana dalem di jemuran kosan, ekspedisi di hutan lindung PT PINDAD, jadi panitia dadakan sunatan masal, liat latihan tanggap darurat kebakaran, naek ambulan, tidur di masjid perusahaan padahal harusnya observasi lapangan, diem-dieman sama temen sekamar, ga sengaja masukin sikat penghuni kamar sebelah ke pembuangan air dan ga afdol klo tinggal sebulan di Bandung tapi ga nginjek yang namanya gasibu dan gedung sate. Well, sepertinya itu bukan magang, tapi liburan di Bandung dengan judul magang. Haha
Tapi, dengan semua hal yang saya lakukan banyak sekali pelajaran yang saya ambil, dari mulai gimana caranya biar dapet tempat ngejemur baju, sampe gimana rasanya jadi pegawai PT. PINDAD yang notabene perusahaan gede.
Begini enaknya nyandang gelar mahasiswa, bisa ngelakuin apa ajah. Dapet ilmu apa ajah. Hehee


dan ini beberapa foto saat saya berada di Bandung.













Jumat, 10 Mei 2013

Do'a Untuk Sebuah Pengampunan

Ya Allah… Inilah hamba-Mu
yang meratap mengharap percikan cinta-Mu
Engkau tahu
betapa jelaga nista terus memburu
dosa dan dosa dan dosa
melagukan sonata hawa nafsu
kelu lidahku untuk mengaku di hadapan-Mu
malu jiwaku untuk menatap-Mu
.
Ya Allah…
Dalam gundah penuh ragu aku menghampiri-Mu
Menatap diriku sendiri yang selalu berpaling
Sesekali dosa-dosa kusesali
Tetapi berjuta kali kuulangi
Betapa daku harus menghadap-Mu
Sedang seluruh syaraf batinku hanyalah kisah kepalsuan
Sungguh tiada yang mendesakku, kecuali sebuah pengampunan-Mu