Senin, 11 Maret 2013

PENGORBANAN SEORANG ADIK ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku.

Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi.

Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? …

Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”. Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.

Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku.

Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten.

Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.

Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.

Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”

Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”. Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku.

Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.”Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu.

Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa.

Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya.

Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu.

Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Bahkan tanpa berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.

Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya.

Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai. (kiriman sahabat)

Anak anak sholih dan sholikah didapat dari tempaan hidup, kompetisi yang didasari iman, islam. Semoga kita semua disini diberi kempatan untuk menjadi orang tua yang memiliki anak anak sholih sholikah dapat berkumpul kembali di akhir nanti. Ayahbunda semua dimampukan untuk membimbing putra dan putrinya semua, diberi kekuatan untuk memfasilitasi belajar yang terbaik, hanya kepada Engkau ya Robb kami meminta,...

Jadilah Orang Yang Kuat Dengan Tidak Mengeluarkan Keluhan

Mengeluh, setiap manusia di dunia ini pasti pernah mengeluh. Setiap ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya hampir pasti dikeluhkan, mengeluhkan diri sendirikah, orang lainkah, bendakah atau apapun yang menurut dia menjadi penyebab tidak tercapainya keinginannya.
Mengeluh itu adalah kebiasaan yang dibenarkan, padahal mengeluh adalah salah satu tanda tidak bersyukur. Bahkan terkadang kita mengeluh dengan nada bicara yang membanggakan keluhan kita. Entah apa maksudnya, mencari sensasi atau sekedar mengharap perhatian.
Sebelum menjadi anggota BEM beberapa tahun yang lalu saya adalah seorang yang senang dengan mengeluh dan senang juga mendengarkan keluhan orang lain. Setiap orang yang memiliki keluhan dan keluhannya sejalan dengan keluhan saya akan saya layani keluhannya dengan keluhan lagi hingga akhirnya sampailah kita pada yang namanya Ghibah, yaitu membicarakan keburukan orang lain yang memang benar adanya.
Beberapa bulan terakhir saya membaca salah satu status facebook teman saya yang mengucapkan "mengeluh itu hanya membuat lemah.." sederhana tapi maknanya luar biasa untuk saya.
Ketika membaca itu saya langsung mempertanyakan kebenarannya dan ternyata memang benar. Seperti saya sebutkan di awal, mengeluh adalah salah satu tanda tidak bersyukur. Jika tidak bersyukur maka tidak bisa menikmati apa yang ada, tidak bisa menikmati apa yang ada tidak akan pernah bahagia karena akan selalu merasa kekurangan, tidak bisa menerima kekurangan berarti mentalnya lemah. Mengeluh juga secara tidak langsung memberitahukan kepada orang lain bahwa kita itu lemah terutama untuk orang-orang yang selalu mengeluh di jejaring sosial, selain membuka kelemahannya sendiri dia juga membuka aib terhadap apa yang dikeluhkannya, meskipun yang dikeluhkannya adalah barang tapi pasti ada yang membuat. Pembuatnya itulah yang akan mendapatkan dampak negatif dari keluhan anda.
Bagaimana agar tidak mengeluh?
Caranya mudah saja namun sulit ketika mengawalinya, apalagi untuk orang-orang yang terbiasa dengan mengeluh. Namun, ketika anda berhasil melakukannya anda akan merasakan perbedaan dalam diri anda ketika menjalani hidup. Caranya adalah cobalah untuk tidak mengeluarkan keluhan dan berkata kasar selama 3 hari berturut-turut. Mudah kan? Kalo memang mudah silakan dicoba. Jika gagal, jangan berhenti mencoba. Karena ini akan melatih anda untuk menahan keluhan yang anda rasakan agar tidak anda ucapkan, cukup dirasakan oleh anda sendiri dan nikmati semua prosesnya.
Selamat mencoba, semoga berhasil dan jadilah orang yang hebat dengan tidak mengeluh. Semoga bermanfaat.. :)  

Senin, 04 Maret 2013

Hapyy Birthday For Me

Ya Allah,
Hari ini tiba juga aku di usia ini
Hari di mana aku harus menjadi lebih bijaksana
Hari di mana aku harus menjadi lebih dekat dengan-Mu
Hari di mana aku harus bisa menjadi teladan bagi orang lain
Ya Allah,
Panjangkanlah usiaku agar hidupku menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat lebih memandang hidup
dengan penuh makna dalam kebesaran-Mu
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat membimbing keluargaku
untuk dapat tunduk dan berbakti kepada-Mu
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat lebih bersyukur
atas nikmat dan rizqi yang Engkau anugerahkan kepadaku
Ya Allah,
Jadikanlah aku menjadi hamba-Mu yang khusyu’ dan tawadhu’
dalam menerimah hikmah dan berkah-Mu
Bertambah usia dalam hitunganku
berkurang pula usiaku dalam hitungan-Mu
Ya Allah,
Aku percaya bahwa Engkau akan selalu berikan yang terbaik
untuk diriku, keluargaku, orang tuaku dan
semua sahabat sejatiku, yang selalu peduli padaku
Hanya pada-Mu lah aku senantiasa mengabdi dan
Hanya pada-Mu lah aku memohon pertolongan
Kabulkanlah do’a hamba-Mu ini Ya Allah..
Amin..amin..amin.. Yaa Robbal ‘Alamin..

Minggu, 24 Februari 2013

Di Suatu Shubuh

Drrrrtttt.... drrrtttt... drrrttttt....

Suara getaran handpone membuatku terbangun dari tidur. Getaran yang timbul karena temanku menelpon untuk membangunkanku sahur. Ya, malam itu memang saya meminta teman saya untuk membangunkan sahur dalam rangka puasa sunnah Asy-Syura dua hari ke depan.
Saya langsung terbangun dan cuci muka, lari ke dapur karena sahur puasa sunnah berbeda dengan sahur puasa Ramadhan, kali ini tidak ada peringatan imsak jadi harus agak ngebut agar aman. Alhamdulillah selesai sahur masih bisa menghisap rokok walaupun hanya beberapa hisap karena adzan sudah berkumandang.
Selesai sholat shubuh saya nyalakan notebook. Berpikir jika shubuh ini ditemani murotal akan terasa lebih nyaman. Suara-suara ceramah kuliah subuh terdengar di beberapa masjid. Benar-benar luar biasa suasana shubuh ini. Saya yang biasanya selalu kesiangan untuk melaksanakan sholat shubuh, kini sholat shubuh tepat waktu. Subhanallah, betapa indahnya suasana dunia di shubuh seperti ini. Saya tidak akan menjelaskan seperti apa suasananya, karena akan sangat sulit jika harus dijelaskan. Cobalah untuk bangun lebih awal dan nikmati pagi sebelum sinar matahari datang. Saya yakin anda tidak akan kecewa.
Pernah saya baca sebuah kaliat dalam akun jejaring sosial saya yang intinya adalah melakukan sesuatu di waktu shubuh niscaya akan sangat beguna dan tak akan sia-sia. Saya melakukan beberapa kegiatan seperti membaca artikel-artikel, cerpen-cerpen islami dan cerita-cerita motivasi untuk bekal saya dalam menjalani hari.

Semoga saya selalu diberi kesempatan untuk menikmati shubuh sebelum sinar matahari datang.
Aamiin..

26 Januari 2013

Jumat, 22 Februari 2013

.: Ketenangan Hati itu Ada Pada Diri Sendiri :.

Gambar : http://tabloidbekam.files.wordpress.com/2010/12/ilustrasi.jpg














Banyak cara untuk menenangkan hati, tapi cara yang paling ampuh adalah hanya cukup yakin dan percaya padaNya. Tak perlu mencari ketenangan hati atau kedamaian pada orang lain. Percayalah, kedamaian itu ada pada diri kita sendiri.
Life is hard, and the world is full of troubles, but the sun still shines, and Allah’s blessings are everywhere in our lives.
Hidup ini keras untuk kita dan terlalu keras untuk yang berjiwa lemah. Masalah selalu datang silih berganti. Ya, semua orang pasti pernah mendapat masalah dalam kehidupan. Ada masalah yang kita anggap berat dan ringan mewarnai masa pendewasaan diri. Tapi ada hal yang perlu dilakukan ketika mendapat masalah atau pun kesusahan, yaitu ringankanlah hati kita, jangan biarkan dikepung kesusahan. Sebab dia (kesusahan) akan merampas harapan & jalan keluar. Percayalah, kesulitan pasti usai juga.
Do everything you can, Allah will do everything you can’t.
Janganlah jadi manusia yang bermalas-malasan. Jika memang kita masih dapat melakukannya, maka lakukanlah. Dan untuk hal yang benar-benar diluar kemampuan kita, yakinlah Allah selalu bersama kita untuk menolong.
As long as Allah is in control, we never have to worry. Worrying is not trusting Allah’s process.
Saya sendiri masih selalu merasa khawatir dengan segala hal yang sudah dan akan terjadi. Namun, ketika menepisnya dan berusaha menyerahkan segala urusan padaNya, insya Allah beban di hati akan menjadi ringan. Susah? Ya memang susah ketika menjalani, tetapi akan mudah saat mengingat betapa besarnya kekuasaan Allah
Allah has a reason for letting things happen. We might not understand it, but we have to trust Him.
Sepertinya dari kita mungkin pernah merasa bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup terasa tidak adil untuk kita. Tapi pernahkah berpikir tentang hikmah yang berada dibaliknya? Hikmah itulah yang harus kita gali dan syukuri. Percayalah, semuanya telah terencana dengan indah dan sempurna olehNya.
Never search your happiness in others, find it with Allah, you’ll feel happy even when you are alone.
Sedih sekali ketika orang-orang yang kita sayang pergi meninggalkan kita. Entah dipanggil olehNya, ataupun memang sengaja meninggalkan kita. Kebahagiaan terasa jauh dan berpaling dari kita. Namun, tahukah bahwa kebahagiaan kita itu bukan terletak pada mereka, tetapi pada Allah yang bertempat di hati. Jadi teringat pesan sahabat fb saya, dia mengatakan,”Jangan pernah tergantung atau menggantungkan kebahagiaanmu pada orang lain. Jika kamu sanggup, kamu akan bahagia.” Tidak mudah? Ya, memang tak mudah dalam penerapannya, tetapi dari situlah kita mampu berusaha memperbaikinya.
I don’t know the key to success, but the key to failure is trying to please everybody.
Kunci sukses? Kadang saya tak dapat menjawabnya apa itu kunci sukses dan apa itu sukses. Karena kesuksesan juga ada pada hati kita sendiri, bagaimana kita dapat memanage hati ketika kegagalan menghampiri. Tapi kunci kegagalan menurut saya adalah memohon, berharap ataupun bergantung pada manusia. Yakinlah dengan kebesaranNya, sukses itu dapat kita genggam dengan tawaqal.
Allah won’t give you anything you can’t handle.
Sekali lagi, jangan takut dengan ujian dan cobaan hidup. Ingatlah bahwa semuanya telah diperhitungkan dengan kadar kemampuan tiap manusia. Jika ujian mendatangi, tandanya Allah telah meyakini kemampuan kita untuk memikulnya.
Don’t be sad if Allah separates us from something or someone we love. If only we knew His plans for us, our hearts would melt with love for Him.
Kehilangan atau berpisah dengan hal atau orang-orang yang kita sayangi pasti menjadi hal yang dapat mengusik ketenangan dan ketentraman hati. Kita kadang akan merasa sedih ketika kehilangan sesuatu dalam hidup ini. Tapi, percayalah pada Allah yang akan menggantinya dengan hal yang telah direncanakan olehNya. Karena tak ada perencanaan yang lebih indah dari segala rencanaNya.
Setiap orang baik, pasti punya masa lalu dan setiap mereka yang belum baik, insya Allah masih punya masa depan. Rahmat Allah sungguh luas.
Pejamkan mata, tarik nafas dalem-dalem, lalu baca → “hasbunallah wa’nimal wakil , ni’mal maula wa’niman nashir” ademmmmm :)

Selasa, 12 Februari 2013

MANUSIA BERTANYA, AL-QURAN MENJAWAB


-Manusia bertanya : bolehkah aku frustrasi ?
-AL-QUR'AN menjawab : janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman . ( Ali Imran : 139 )

-Manusia bertanya : kenapa aku diberi ujian seberat ini ?
-AL-QUR'AN menjawab : ALLAH tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ( Al-Baqarah : 286 )

-Manusia bertanya : kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik ?
-AL-QUR'AN menjawab : boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui . ( Al-Baqarah : 216 )

-Manusia bertanya : kenapa aku diuji ?
-AL-QUR'AN menjawab : apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : " kami telah beriman ", sedang mereka tidak diuji lagi ? ( Al-Ankabuut : 2 )

-Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya ALLAH mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta .( Al-Ankabuut : 3 )

-Manusia bertanya : bolehkah aku berputus asa ?
-AL-QUR'AN menjawab : Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir . ( Yusuf : 87 )

-Manusia bertanya : bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini ?
-AL-QUR'AN menjawab : hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada ALLAH supaya kamu beruntung . ( Ali Imraan : 200 )

-Manusia bertanya : bagaimana menguatkan hatiku ?
-AL-QUR'AN menjawab : cukuplah ALLAH bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakal . ( At-Taubah : 129 )

-Manusia bertanya : apa yang kudapat dari semua ujian ini ? ~
-AL-QUR'AN menjawab : sesungguhnya ALLAH telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka . ( At-Taubah : 111 )

~?~ Maha Benar ALLAH Dengan Segala Firman-NYA ~?~

Sabtu, 09 Februari 2013

.: YAKINLAH SELALU AKAN DOAMU, ANAK MUDA :.

gambar : http://1.bp.blogspot.com

Bismillah ... sebuah kisah mulia terjadi dan bermula dari suatu tempat yang sangat sederhana, Pangkalan becak. Seorang bapak tua tengah membersihkan keringatnya setelah seharian bekerja. Beliau adalah seorang tua yang berusia sekitar 75 tahun dan sudah lebih dari 35 tahun mencari nafkah dengan menarik becak. Sosoknya sangat sederhana dan murah senyum. Dikalangan teman- temannya, si bapak tua adalah seorang yang sangat disegani, karena kejujurannya.

ketika sore menjelang, ada seorang anak muda menaiki becaknya. Si anak muda adalah seorang yang kaya, terpelajar dan modern. Dia berniat datang ke kota tersebut untuk berekreasi dan melepas penatnya setelah lama bekerja di kota. Berjam- jam mereka berkeliling kota, sampai akhirnya adzan magrib pun berkumandang. Seketika, si bapak tua itu menghentikan becaknya di depan sebuah masjid, dan meminta ijin untuk sholat.

Setelah beberapa lama, mereka kemudian melanjutkan kembali acara jalan- jalan tadi. Dan, sampailah mereka pada sebuah warung kopi dipinggir jalan.

“Nak, apa bapak boleh minta ijin sebentar untuk buka puasa?”

” Bapak puasa? ” Jawab anak muda tersebut dengan sedikit terkejut.

” Iya. sebentar saja, bapak ingin beli air dulu”

” Saya ikut sekalian pak. Kita minum kopi bareng. Saya yang traktir” Kata si anak muda dengan semangat.

Mereka berduapun akhirnya melepas lelah sambil ngobrol dan bersantai di warung tersebut.

” Kenapa bapak puasa tapi masih mengayuh becak?. Apa ndak capek?” Si anak muda memulai pembicaraan.

” Bapak sudah terbiasa insyaallah. Ndak apa- apa nak” Jawab pak tua singkat.

Waktupun terus berlalu. Banyak hal mereka bicarakan bersama malam itu. Dan melihat hari semakin malam, anak muda tersebut berniat pamit pulang. Dia mengucapkan terimakasih seraya memberikan uang sebagai ongkos naik becak. Tapi di luar dugaan, bapak tukang becak itu menolaknya.

” Ini kan ongkos buat bapak tadi setelah seharian mengantar saya.” Kata anak muda itu kali ini dengan masih sangat heran

” Ndak nak, trimakasih” jawab bapak tua

” Maap apa masih kurang? Ok. Ini buat bapak semua” Tanyanya lagi sambil memberikan uang 2 ratus ribu.

“Maaf nak bukan begitu. Sebenarnya…”

” Kenapa pak? ” Diapun buru- buru memotong perkataan itu.

” Maaf nak, bukan bapak tidak mau menerima. Tapi hari ini hari kamis nak, bapak tidak mau menerima uang dari siapapun yang naik becak bapak. ”

” Kok bisa begitu pak?” Tanya si anak muda dengan lebih penasaran. ”

“Bapak inikan orang miskin dan bodoh, tapi… sebenarnya bapak ingin naik haji. Semua orang memang mentertawakan bapak, mereka bilang bapak suka berkhayal. Lah wong, buat makan sehari hari saja tidak cukup apalagi naik haji. Akhirnya bapak cuma bisa minta sama Allah, karena bapak yakin Allah satu- satunya yang tidak akan mentertawakan bapak.”

“Lalu…” si anak muda tidak dapat menghentikan rasa penasarannya.

“Kalau hari senin dan kamis bapak tidak akan meminta bayaran sedikitpun kalau ada orang yang naik becak. Bapak berniat sedekah dengan tenaga bapak itu. Bapak berharap suatu hari Allah melihat kesungguhan usaha ini dan akan mengabulkan doa bapak.”

” Apa bapak yakin? ”

” Kalau kita berharap pada makhluk, kita harus siap- siap untuk setiap saat kecewa, tapi kalau kita berharap hanya pada Allah, Dia adalah satu- satunya yang tidak pernah mengkhianati kita, nak. Kita harus Yakin dengan apa yang kita doakan dan cita- citakan, Insyaallah Allah tidak akan mengkhianati kita. ”

Sejenak si anak muda tersebut terdiam. Benar- benar kali dia kehilangan walaupun hanya satu huruf saja untuk di ucapkan. Tak terasa, kopi yang disuguhkan dihadapannya telah dingin. Dan dia masih belum bisa mengatakan apapun. Setelah beberapa saat dia pamit pulang meninggalkan pasar yang ramai dengan hiruk pikuknya.

Setelah sampai di rumah, pikirannya kemudian di penuhi dengan seribu satu hal. Kata- kata bapak tukang becak itu begitu lugu dan natural namun sangat dalam baginya. Entah mengapa, seketika perasaan malu menyeruak melingkupi batinnya. Teringat padanya, bahwa dia selama ini yang selalu dalam gelimang harta dan kekayaan, namun sangat susah baginya untuk sekedar meluangkan waktu untuk mengingat tuhannya. Kesadarannya tiba- tiba muncul dan berkata bahwa ternyata selama ini, harta yang dia miliki hanyalah sekedar ujian baginya, dan sayangnya dia tidak berhasil dalam ujian itu, karena terbukti harta telah membuatnya jauh dari Allah sang maha Rahman.

Masih terngiang di kepalanya, ucapan bapak tukang becak tersebut. Herannya, dia bukanlah seorang profesor atau manusia yang mempunyai gelar terhormat, namun baru kali inilah, seorang yang lugu, sederhana, namun sangat sholeh, telah berhasil menyentuh hatinya.

Beberapa hari kemudian…

Si anak muda akhirnya telah kembali ke kota tersebut, dan kali ini dia berada di tengah- tengah pangkalan becak itu. Telah bulat tekadnya untuk menemui tukang becak tua yang dia jumpai beberapa hari lalu, untuk membicarakan sesuatu. Setelah beberapa jam mencari dan menunggu, maka bertemulah mereka berdua, masih di tempat warung kopi yang sama seperti dulu.

” Apakah bapak mau menemani saya?” tanya anak muda tersebut sambil tersenyum.

” Kemana nak?”

” Saya ingin mengajak bapak berhaji tahun ini”

sumber : Islamic Motivation