Minggu, 21 Oktober 2012

RASA TAKUT ADALAH NALURI


·         Rasa takut adalah naluri, rasa berani adalah kemenangan: kemauan membungkam rasa takut dan menyembunyikan dibawah rasa berani.
·         Adalah mudah untuk bersikap berani dalam jarak yang aman.
·         Betapa sering kita ingin menjadi takut, tapi kurang ada keberanian pada kita untuk berbuat demikian.
·         Ada orang-orang yang menjadi agresip, oleh karena mereka menjadi takut.
·         Hanya ada dia yang mempunyai keberanian yang sesunggunya yang mampu menanggung beban dari pengalaman yang seburuk-buruknya yang bisa dialami manusia yang bersikap bijaksana.
·         Kebesaran manusia yang benar satu-satunya barangkali terdiri dari kemampuannya untuk merendahkan dirinya sendiri.
·         Caci maki seorang penjahat merupakan kehormatan bagi seorang yang jujur.
·         Takut akan apa yang orang lain berkata atau berpikir tentang anda yakinlah, bahwa apa yang anda rencanakan adalah baik dan tepat.
Dan laksanakanlah tak ada orang yang melakukan sesuatu yang tak mendapatkan kecemasan.
·         Takut akan orang: letakkan persoalannya, pada proporsi yang sebenarnya ingat bahwa orang lain itu adalah manusia biasa, mirip dengan anda sendiri.
·         Gunakan dua langkah: pencilkan rasa takut anda, tetaplah secara pasti dan seksama, apa yang anda takuti ambilah tindakan, ada tindakan tertentu bagi ketakutan tertentu, dan ingat bahwa ragu-ragu hanya memperbesar rasa takut anda. Ambilah tindakan segera, bersikaplah tegas dalam mengambil keputusan, kekurangan, keyakinan pada diri sendiri sering disebabkan karena ingatan yang keliru arah.
·         Senyumlah: senyum memberi kepercayaan kepada yang bersenyum it. Mereka tahu bahwa senyum itu adalah obat mujarab untuk menyembuhkan rasa kurang percaya, karena mereka tak pernah tersenyum kalau mereka takut.
·         Orang sering menunjukkan ketetapan hati karena kelemahannya dan berani karena rasa malu.
·          Keberanian sebenarnya adalah bagaikan layang-layang, sentakan angin menaikannya.
·         Seorang pengecut mati beberapa kali sebelum meninggal dunia, si pemberani hanya merasakan kematian hanya sekali saja.
·         Seorang pemberani yang sebenarnya bukannya dia yang dengan membabi buta melompat masuk ke dalam jurang, melainkan adalah dia yang dengan perlahan-lahan dan mata terbuka memasuki jurang itu setelah mengukur dalamnya .
·         Bagi semangat dan jiwa tidak dapat mengambil keputusan, ketakutan adalah sama seperti bangku penyiksa bagi badan.
·         Adalah sebuah nasehat yang baik yang pernah saya dengar diberikan kepada seorang anak muda: kerjakan selalu apa yang anda takut melakukannya.
·         Jika kita hendak mengikutsertakan orang-orang yang berani dalam sesuatu soal, kita harus menggambarkan bahwa masalah lebih berbahaya dari pada yang sebenarnya.
·         Banyak orang menyangka bahwa apabila mereka melihat dimana-mana hanya ngarai-ngarai keburukan saja hal itu merupakan pertanda adanya suatu penglihatan yang dalam pada mereka.
·         Teguran-teguran yang kita berikan kepada mereka yang berbuat salah lebih banyak didorong oleh kecongkahan daripada oleh kebaikan kita dan kita mencela mereka itu lebih banyak untuk meyakinkan mereka itu kita tidak mempunyai kesalahan-kesalahan tersebut daripada untuk memperbaiki mereka itu.
·         Orang akan lebih menghargai kesopanan banyak orang lain seandainya dia tahu betapa banyak kemenangan diri yang diperlukan orang-orang itu untuk memperolehnya.
·         Sifat sedang menimbang semuanya benar hanya alat timbangannya yang tidak benar.
·         Perbaikan yang terlalu besar dalam memperhatikan kekurangan-kekurangan orang lain membikin orang meninggal tak pernah mempunyai waktu untuk mengenal kekurangan-kekurangannya sendiri.
·         Banyak orang meributkan keburukan dunia yang bagi mereka sebenarnya jauh daripada cukup buruk.
·         Memang sulit untuk menyukai mereka yang kita tidak hormati, tapi tidak kalah sulitnya adalah untuk menyukai mereka yang kita lebih hormati. Tapi tidak kalah sulitnya adalah untuk menyukai mereka yang kita lebih hormati dari diri kita sendiri.
·         Mereka yang memiliki anggapan yang tinggi mengenai diri mereka sendiri tidak senang secara mendadak nampak gambar dirinya dilihatnya sendiri dalam cermin.
·         Apabila seseorang tidak bisa mendapatkan rasa hormat dari orang lain kepada dirinya, maka timbullah kecenderungan dalam dirinya untuk orang-orang yang baik hati dihormati oleh karena mereka tidak mengetahui bahwa orang lain hanya menyalahgunakan mereka.
·         Orang selalu mengagumi suatu karya, dalam mana ditemukannya kembali pikiran-pikirannya sendiri.
·         Pada punggung setiap orang pada sebuah etiket yang menjadi dasar bagi orang lain untuk menilai dirinya dan hanya dia sendiri yang tidak melihatnya.
·         Kita menanamkan ajaran adat yang tidak dari kita sendiri tidak beradat.
·         Dalam membenarkan orang lain kita mengikuti pendapat dunia tapi dalam membenarkan diri kita sendiri sering kita memdahului pendapat dunia.
·         Seperti negara mempunyai undang-undang dasar, demikian pula mestinya setiap orang harus mempunyai undang-undang dasar sendiri untuk dirinya masing-masing.
·         Dari kehidupan orang lain kita hanya melihat dalih-dalih saja.
·         Orang-orang menuduh sesamanya melakukan kesalahan-kesalahan yang mereka sendiri bukannya tidak pernah melakukannya.
·         Oleh karena keinginannya bapak dari pikiran, maka demikian mudah kita percaya kepada kesalahan-kesalahan orang lain.
·         Bicarakanlah orang lain dengan sifat-sifat yang baik: ingat bercakap bukan bergosip bukan bergunjing. Bercakap berbincang-bincang dicampuri bercanda kadang-kadang perlu anda bisa menyelidiki apakah anda suka bergosip apa tidak.
·         Jika kita sendiri tidak demikian sering berpura-pura, kita tidak akan demikian tersinggung melihat kepura-puraan pada orang lain.
·         Orang tidak akan dihormati orang lain lebih dari pada dia menghormati dirinya sendiri.
·         Orang sering mengatakan sesuatu yang kasar kesebelah kiri untuk menerima pujian dari sebelah kanan.
·         Rasa hormat tidak selelu membawa kepada persahabatan, tapi persahabatan tidak mungkin ada tanpa rasa hormat. Ini merupakan salah satu hal yang membikin persahabatan lebih dari pada rasa cinta.
·         Mengagumi seseorang berarti berkeinginan menjadi sama dengan yang dikagumi itu. Merasa iri hati kepada seseorang berarti berkehendak untuk menyingkirkannya.
·         Apa yang anda sukai pada diri orang lain pada umumnya juga orang menilai orang lain berdasarkan apa yang dikatakakannya dan apa yang diperbuatnya: orang menilai diri sendiri berdasarkan apa yang dipikirkannya dan yang hendak dicobanya.

Tanam dan tumbuhkan tiga sikap ini jadikanlah pembantu anda:
1.       Tumbuhkan sikap aktif
2.       Tumbuhkan sikap anda penting
3.       Tumbuhkan sikap paling dulu service
Apa saja yang anda lakukan, lakukanlah dengan semangat orang suka bergaul, dengan orang percaya tentang apa yang dikatakannya. Seperti ngengat menggerogoti pakaian, demikian pula rasa iri hati menggerogoti rasa manusia.
Iri hati yang berbicara, bahkan yang berteriak senantiasa tidak berbahaya, yang harus ditakuti adalah iri hati yang berdiam diri.
Rasa iri hati kita selalu berumur lebih panjang daripada kebahagiaan dari mereka yang membangkitkan rasa irihati tersebut.
Ambisi adalah seperti air laut, semakin banyak orang meminumnya semakin haus .
Apa yang nampak sebagai kemurahan hati sering sebenarnya adalah tiada lain daripada ambisi yang terselubung, yang mengabaikan kepentingan-kepentingan kecil untuk mengejar kepentingan-kepetingan yang lebih besar. Hati-hati ejekan sering hanya merupakan ungkapan rasa malu dari kelembutan.
Mengalah kepada orang yang salah adalah dua kali benar apabila anda membantu orang lain untuk merasa penting, maka anda membantu diri anda merasa penting pula.
Adalah kutu yang berani, yang berani mendapatkan sarapannya pada bibir seekor singa. Sungguh orang pemberani sebagai manusia berani makan tiram pancarkan kabar baik. Tak ada orang menghasilkan sesuatu yang bermutu kalau ia suka memancarkan kabar-kabar yang jelek.
Tumbuhkan dan kembangkan sikap anda itu penting, orang berbuat lebih banyak untuk anda, kalau anda membuat mereka merasa lebih penting, ingat untuk berbuat  hal-hal yang tersebut.
Berilah pernghargaan, pujian pada setiap kesempatan. Buatlah orang merasa penting,.
Anda jangan memuji orang karena nampaknya besar, atau memandang orang karena kelihatan kecil, karena lebah termasuk kecil dikalangan binatang bersayap namun dialah yang menghasilkan madu yang lebih manis.
·         Kesadaran sekalipun hanya sesaat saja seringkali berharga daripada pengalaman sepanjang hidup.
·         Nasihat yang terbaik diberikan oleh pengalaman, tapi nasehat ini selalu datang terlambat.
·         Rasa hormat yang diberikan secara kaku, acuh tak acuh merupakan kekasaran yang halus.
·         Orang sering mencampuradukan kekuatan dengan kekerasan, memang benar kelembutan sering merupakan pembungkus yang jelek dari kelemahan, tapi kekerasan sering juga merupakan kelemahan yang nampaknya lebih pandai menyembunyikan diri.
Dari siapa anda belajar tingkah laku yang baik? Saya belajar dari mereka yang tidak mempunyai tingkah laku yang baik.
·         Mengalah sama dengan melucu, yang menerima tidak akan pernah merasa cukup menerimanya, tapi yang memberi bisa kadang memberikannya terlalu banyak.
·         Apabila orang bertindak bijaksana, tidak seorangpun melihatnya, tetapi apabila orang berlaku tidak bijaksana maka semua orang akan mengetahuinya.
·         Orang yang bijaksana adalah orang yang mengetahui sejauh mana dia merasa pergi terlalu jauh.
·         Tidak ada yang membikin panah sendirian, lebih tajam daripada sikap hormat yang melapisinya, tidak ada penyesalandapat dibandingkan dengan yang kita sampaikan dengan tersenyum sambil membungkuk.
·         Penggaris tidak memapkan pengkolan yang sebagus-bagusnya karena bengkoknya. Pendapat umum seperti pelacur, orang menyenangkannya tanpa menghormatinya.
·         Sejarah mendewa-dewakan banyak orang sebagai pahlawan yang sebenarnya hanyalah korban-korban saja.
Jumlah kami jika dibandingkan dengan musuh demikian hingga kami bisa melakukan satu-satunya hal yang bisa dijalankan kita harus menyerang.
·         Lapangan es yang licin merupakan sebuah sorga bagi mereka yang pandai berdansa.
·         Semua kita pengecut karena kita menerima hidup tapi barangkali kita adalah pahlawan oleh karena kita hidup tidak ada orang yang menyukai mereka yang ditakuti.
Apabila orang terlalu mengkhawatirkan apa yang bakal terjadi, dia pada akhirnya akan merasa lega, jika hal yang dikhawatirkan itu benar-benar terjadi.
Ø  Betapapun tingginya burung itu terbang, toh dia harus mencari dan mendapatkan makanannya dibumi juga, tidak ada burung terbang terlampaui tingginya kalau dia terbang dengan sayapnya sendiri
Ø  Banyak orang dimana-mana merasa dirinya mereka seolah-olah ditarik mundur saja hanya oleh karena mereka, dimana-mana mereka ingin menjadi nomor satu.
Ø  Usahakan selalu untuk tidak menegakkan kepada anda lebih tinggi dari pada topi anda.
Ø  Para murid dan pengikut kita akan mengejar kepada kita seribu kali lebih banyak dari guru-guru kita, jika seandainya kita bisa hidup cukup lama untuk menyaksikan karya-karya mereka. Perkecualian tidak selalu merupakan pembuktian daripada hukum lama yang ada, perkecualian bisa saja hanya merupakan pertanda dari masa mendatang tibanya hukum baru.
Ø  Tidak ada orang yang merasa kasihan kepada penderitaan yang dialami oleh kesombongan.
Orang-orang lebih percaya pada kebiasaan dan tradisi para leluhur daripada akal sehat mereka sendiri.
Sebagaimana kita menutup mata mereka yang meninggal dunia, secara perlahan-lahan kita juga harus membuka mata yang hidup secara perlahan-lahan pula.
Seandainya mereka yang berpura-pura mempunyai anggapan yang kurang keherana, jika mereka menemukan orang lain ternyata juga sependapat dengan mereka itu.
Penghormatan dari orang-orang yang sejaman dengan kita merupakan kebahagiaan yang lebih besar daripada kekaguman dari generasi mendatang.
Sering terjadi bahwa orang menghormati kita sepadan dengan penghormatan yang kita berikan kepada diri kita sendiri. Juga yang paling berani diantara kita jarang-jarang mempunyai keberanian untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya diketahuinya.

Belajar adalah benang-benang yang membayar pengalaman pribadi adalah benang yang melintang dalam membuat suatu tenunan pengetahuan praktis.
Selalu menguntungkan jika kita meluangkan waktu untuk belajar, pokoknya asal jangan terlalu sibuk, tak karua, jalankan tugas kewajiban anda sebaik dan secepat mungkin inilah yang paling penting.
Ø  Setiap pemenang penuh dengan bekas-bekas luka, hidup berarti perjuangan selalu ada rintangan-rintangan dan saingan-saingan setiap sukses harus diperjuangkan.
Ø  Kesulitan-kesulitan adalah hal gejala wajar dari sebuah kehidupan yang berarti setiap orang yang progresip adalah selalu dikelilingi oleh kesulitan.
Milikilah rasa percaya kepada diri sendiri dan kearah semangat cukup besar dibelakan keinginan anda untuk mencapai keinginan anda untuk mencapai apa yang anda cita-citakan.
Kesehatan diatas, segala-galanya banyak orang kehilangan segala-galanya karena kesehatan yang buruk.
Tubuh adalah penyimpan energi, harus tetap diisi supaya tetap senyum dan kata-kata ramah seringkali menaikkan produksi 10% atau lebih.
Untuk mendapatkan rejeki, dan nasib baik setiap orang harus bernai menembus bahaya, karena rejeki itu melekat dalam bahaya. Manusia harus mengenal resiko, agar resiko itu dapat diperhitungkan kemudian dapat ditundukkan untuk mendapatkan rejeki maka diperlukan suatu keberanian untuk mendekati untuk berbuat dan mengerjakan sesuatu. Lebih dulu kita harus memiliki keadaan jiwa yang tepat untuk menghadapi kesulitan-kesulitan dalam keadaan memaksa.
Ø  Semakin besar orang itu semakin besar pula kesulitan-kesulitannya dan semakin besar pula tanggung jawabnya.
Sebaiknya anda mencuri kesulitan, kesulitan yang lebih besar. Semakin banyak kesulitan yang diatasi semakin banyak keuntungan yang ia dapati. Watak itulah yang paling berharga pada manusi, ia dibentuk oleh kesulitan-kesulitan bukan oleh hidup bermalas-malasan.
Ø  Barang siapa tak mempunyai kesulitan, akan mengakhiri hidupnya sebagai sampah masyaraka, sebab tiadanya tujuan hidup dan tanpa perjuangan.
Ø  Hidup yang berarti itu adalah serentetan kesulitan dan persoalan yang harus segera dicari jalan pemecahannya.
Ø  Kesulitan-kesulitan tak memberi otak baru kepada manusia, tetapi ia memaksa menggunakan otaknya.
Kesulitan adalah batu alasan kehidupan, setiap puncak karier, dicapai dengan jalan mengatasi kesulitan-kesulitan orang-orang yang berhasil adalah mereka yang bercita-cita dan mempunyai daya kemauan untuk memperkembangkan diri sendiri. Mereka itu tak banyak jumlahnyadan selamanya. Begitu kegagalan adalah hal yang biasa, sukses adalah luar biasa.
·         Kesulitan apapun tak tahan terhadap keuletan dan ketekunan, tanpa keuletan dan ketekunan orang yang paling pintar dan paling berbakat sering gagal dalam hidupnya.
·         Orang yang percaya dan yakin akan berani berusaha terus, mungkin kepandaian-kepadandaiannya tak seberapa, tetapi ia memiliki daya pendorong .
·         Orang yang cepat akan melampaui orang yang kuat tapi lambat.
·         Orang yang berani berinisiatif, adalah orang yang memikul banyak tanggung jawab. Dengan ini setiap ia berhasil melakukan tugas-tugasnya yang kesukaran yang harus anda hadapi. Betapa pentingnya inisiatif dalam perjuangan hidup. Orang yang mengambil inisiatif adalah orang yang memimpin selalu dalam pihak yang menguntungkan diri. Ia tahu apa yang harus diperbuatnya.
·         Orang yang mengambil inisiatif banyak memiliki keuntungan.
Ambilah selalu inisiatif untuk berbuat dan bertindak, lakukanlan hal ini disegala bidang dan lapanga, jangan menanti sehingga ada orang yang menyuruh anda melakukan, yakin hal ini berguna dan perlu.
Ø  Cara yang sukar untuk mendapatkan lebih banyak uang ialah dengan bertindak efisien tetapi ini adalah cara yang lebih baik dan lebih aman.
Ø  Kesulitan-kesulitan anda telah memberikan jalan pelajaran kepada anda tentang apa yang seharusnya tak dilakukan.
Ø  Anda tidak boleh diombang-ambingkan oleh harapan-harapan keinginan-keinginan dan merenungkan saja nasib anda. Anda harus bertindak.
Ø  Buatlah rencana dengan sebaik-baiknya, kemudian anda harus bertindak jangan ragu-ragu dengan pengaruh orang lain jangan menoleh kekiri dan kekana, bertindaklah langsung, tegas kemungkinan kemungkinan berhasil, kemungkinan menang, kemungkinan dapat, dan kemungkinan mengatasi masalah bertambah beberapa kali.
Ø  Mulai sekarang bertindak berbuat setegas mungkin, ambilah tindakan terutama mengatasi kesukaran-kesukaran.
Ø  Penangguhan berarti kelemahan, disebabkan oleh keengganan kurang pengetahuan, pemalasan dan lemah kemauan.
Ø  Harus terus belajar, terus membaca, banyak membaca untuk belajar dari orang lain, belajarlah dari pengalaman orang lain, dengan belajar kita dapat melipagandakan produktifitas kerja kita, maka jika kita menghadapi kesulitan-kesulitan baru kita harus belajar.

Rabu, 26 September 2012

Menggapai yang tak tergapai

Hidup memang tak selalu indah. Hidup memang penuh tantangan, penuh beban. dibutuhkan kekuatan hati dan keyakinan yang kuat untuk dapat melewati hidup.
Terkadang perjalanan hidup terasa begitu hebat ketika seseorang merasa telah mampu untuk melewati dan menghadapi semua permasalahan pribadinya dalam hidup.
Namun hidup bukan tentang bagaimana menjadikan diri sendiri sebagai seorang yang hebat. Setidaknya itu berlaku untukku, itu terlalu egois.

Melewati hidup tanpa orang tua disaat kita membutuhkan sosok orang tua. Melewati hidup sebagai seorang yang harus memberikan bimbingan dan teladan bagi adik-adiknya, tak semudah dan semenyenangkan yang orang pikirkan.
Ketika kita merasa gagal dalam menjalankan tugas kita, tak dapat memberi contoh tak dapat membimbing orang yang seharsunya kita bimbing. Ketika kita dipaksa oleh keadaan untuk berpikir yang seharusnya masih bukan kewajiban kita..

Begitu berat beban ini, ketika semua kutopang dipundakku. Tak ada orang yang dapat menunjukkan apa yang harus kulakukan. Hanya belajar dari apa yang aku lihat dan aku alami selama menjalani hidup.

Ketika raga menyatakan tak mampu lagi, namun jiwa tak dapat lari dari semua ini, yang kulakukan hanya yakin dan percaya bahwa semua akan terlewati bagaimanapun caranya.

Selama kaki masih dapat melangkah,
mata masih dapat melihat,
telinga masih dapat mendengar,
mulut masih bisa berkata,
hidung masih mampu untuk bernafas
aku sangat yakin tanganku masih bisa menggapai meski tak dapat terulur lagi.

-GPP, 100912-

Kamis, 20 September 2012

sandarkan harapan

Mengapa jiwaku mesti bergetar,
sedang musikpun manis ku dengar..
mungkin karena kulihat lagi lentik bulu matamu
dan rambutmu yang kau biarkan jatuh tergrai di keningmu..
mengapa aku mesti duduk disini,
sedang kau tepat didepanku..
mestinya aku berdiri berjalan kedepanmu,
kusapa,
dan
kunikmati wajahmu,
atau kuisyaratkan cinta..
tapi semua tak kulakukan..

mengapa dadaku mesti berguncang,
bila ku sebutkan namamu..
sedang kau diciptakan bukan untukku..
tapi aku tak mau peduli
sebab
cinta tak mesti bersatu
biar kucumbui bayangmu
dan kusandarkan harapanku....

-ebiet G Ade-

Senin, 06 Agustus 2012

Cinta Yang Tak Pernah Padam


Ketika aku berjalan kaki pulang ke rumah di suatu hari yang dingin, kakiku tersandung sebuah dompet yang tampaknya terjatuh tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku memungut dan melihat isi dompet itu kalau-kalau aku bisa menghubungi pemiliknya. Tapi, dompet itu hanya berisi uang sejumlah tiga Dollar dan selembar surat kusut yang sepertinya sudah bertahun-tahun tersimpan di dalamnya. Satu-satunya yang tertera pada amplop surat itu adalah alamat si pengirim. Aku membuka isinya sambil berharap bisa menemukan petunjuk.

Lalu aku baca tahun "1924". Ternyata surat itu ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang anggun di atas kertas biru lembut yang berhiaskan bunga-bunga kecil di sudut kirinya.
Tertulis di sana, "Sayangku Michael", yang menunjukkan kepada siapa surat itu ditulis yang ternyata bernama Michael. Penulis surat itu menyatakan bahwa ia tidak bisa bertemu dengannya lagi karena ibu telah melarangnya. Tapi, meski begitu ia masih tetap mencintainya. Surat itu ditandatangani oleh Hannah. Surat itu begitu indah.

etapi tetap saja aku tidak bisa menemukan siapa nama pemilik dompet itu. Mungkin bila aku menelepon bagian penerangan mereka bisa memberitahu nomor telepon alamat yang ada pada amplop itu. "Operator," kataku pada bagian peneragan, "Saya mempunyai permintaan yang agak tidak biasa. sedang berusaha mencari tahu pemiliki dompet yang saya temukan di jalan. Barangkali anda bisa membantu saya memberikan nomor telepon atas alamat yang ada pada surat yang saya temukan dalam dompet tersebut?"

Operator itu menyarankan agar aku berbicara dengan atasannya, yang tampaknya tidak begitu suka dengan pekerjaan tambahan ini. Kemudian ia berkata, "Kami mempunyai nomor telepon alamat tersebut, namun kami tidak bisa memberitahukannya pada anda." Demi kesopanan, katanya, ia akan menghubungi nomor tersebut, menjelaskan apa yang saya temukan dan menanyakan apakah mereka berkenan untuk berbicara denganku. Aku menunggu beberapa menit.

Tak berapa lama ia menghubungiku, katanya, "Ada orang yang ingin berbicara dengan anda." Lalu aku tanyakan pada wanita yang ada di ujung telepon sana, apakah ia mengetahui seseorang bernama Hannah. Ia menarik nafas, "Oh, kami membeli rumah ini dari keluarga yang memiliki anak perempuan bernama Hannah. Tapi, itu 30 tahun yang lalu!" "Apakah anda tahu dimana keluarga itu berada sekarang?" tanyaku. "Yang aku ingat, Hannah telah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo beberapa tahun lalu," kata wanita itu. "Mungkin, bila anda menghubunginya mereka bisa mencaritahu dimana anak mereka, Hannah, berada." Lalu ia memberiku nama panti jompo tersebut. Ketika aku menelepon ke sana, mereka mengatakan bahwa wanita, ibu Hannah, yang aku maksud sudah lama meninggal dunia. Tapi mereka masih menyimpan nomor telepon rumah dimana anak wanita itu tinggal. Aku mengucapkan terima kasih dan menelepon nomor yang mereka berikan. Kemudian, di ujung telepon sana, seorang wanita mengatakan bahwa Hannah sekarang tinggal di sebuah panti jompo.

"Semua ini tampaknya konyol," kataku pada diriku sendiri. Mengapa pula aku mau repot-repot menemukan pemilik dompet yang hanya berisi tiga Dollar dan surat yang ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu? Tapi, bagaimana pun aku menelepon panti jompo tempat Hannah sekarang berada. Seorang pria yang menerima teleponku mengatakan, "Ya, Hannah memang tinggal bersama kami." Meski waktu itu sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku meminta agar bisa menemui Hannah. "Ok," kata pria itu agak bersungut-sungut, "bila anda mau, mungkin ia sekarang sedang menonton TV di ruang tengah."

Aku mengucapkan terima kasih dan segera berkendara ke panti jompo tersebut. Gedung panti jompo itu sangat besar. Penjaga dan perawat yang berdinas malam menyambutku di pintu. Lalu, kami naik ke lantai tiga. Di ruang tengah, perawat itu memperkenalkan aku dengan Hannah. Ia tampak manis, rambut ubannya keperak-perakan, senyumnya hangat dan matanya bersinar-sinar. Aku menceritakan padanya mengenai dompet yang aku temukan. Aku pun menunjukkan padanya surat yang ditulisnya. Ketika ia melihat amplop surat berwarna biru lembut dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "Anak muda, surat ini adalah hubunganku yang terakhir dengan Michael." Matanya memandang jauh, merenung dalam-dalam. Katanya dengan lembut, "Aku amat-amat mencintainya. Saat itu aku baru berusia 16 tahun, dan ibuku menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, Ia sangat tampan. Ia seperti Sean Connery, si aktor itu." "Ya," lanjutnya. Michael Goldstein adalah pria yang luar biasa. "Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa aku selalu memikirkannya, Dan,......."

Ia ragu untuk melanjutkan, sambil menggigit bibir ia berkata, ......katakan, aku masih mencintainya. Tahukah kau, anak muda," katanya sambil tersenyum. Kini air matanya mengalir, "aku tidak pernah menikah selama ini. Aku pikir, tak ada seorang pun yang bisa menyamai Michael." Aku berterima kasih pada Hannah dan mengucapkan selamat tinggal. Aku menuruni tangga ke lantai bawah. Ketika melangkah keluar pintu, penjaga di sana menyapa, "Apakah wanita tua itu bisa membantu anda?" Aku sampaikan bahwa Hannah hanya memberikan sebuah petunjuk, "Aku hanya mendapatkan nama belakang pemilik dompet ini. Aku pikir, aku biarkan sajalah dompet ini untuk sejenak. Aku sudah menghabiskan hampir seluruh hariku untuk menemukan pemilik dompet ini." Aku keluarkan dompet itu, dompat kulit dengan benang merah disisi-sisinya. Ketika penjaga itu melihatnya, ia berseru, "Hei, tunggu dulu. Itu adalah dompet Pak Goldstein! Aku tahu persis dompet dengan benang merah terang itu.Ia selalu kehilangan dompet itu. Aku sendiri pernah menemukannya dompet itu tiga kali di dalam gedung ini."

"Siapakah Pak Goldstein itu?" tanyaku. Tanganku mulai gemetar. "Ia adalah penghuni lama gedung ini. Ia tinggal di lantai delapan. Aku tahu pasti, itu adalah dompet Mike Goldstein. Ia pasti menjatuhkannya ketika sedang berjalan-jalan di luar." Aku berterima kasih pada penjaga itu dan segera lari ke kantor perawat. Aku ceritakan pada perawat di sana apa yang telah dikatakan oleh si penjaga. Lalu, kami kembali ke tangga dan bergegas ke lantai delapan. Aku berharap Pak Goldstein masih belum tertidur. Ketika sampai di lantai delapan, perawat berkata, "Aku pikir ia masih berada di ruang tengah. Ia suka membaca di malam hari. Ia adalah Pak tua yang menyenangkan." Kami menuju ke satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala. Di sana duduklah seorang pria membaca buku. Perawat mendekati pria itu dan menanyakan apakah ia telah kehilangan dompet. Pak Goldstein memandang dengan terkejut. Ia lalu meraba saku belakangnya dan berkata, "Oh ya, dompetku hilang!" Perawat itu berkata, "Tuan muda yang baik ini telah menemukan sebuah dompet. Mungkin dompet anda?" Aku menyerahkan dompet itu pada Pak Goldstein. Ia tersenyum gembira. Katanya, "Ya, ini dompetku! Pasti terjatuh tadi sore. Aku akan memberimu hadiah." "Ah tak usah," kataku. "Tapi aku harus menceritakan sesuatu pada anda. Aku telah membaca surat yang ada di dalam dompet itu dengan harap aku mengetahui siapakah pemilik dompet ini."

Senyumnya langsung menghilang. "Kamu membaca surat ini?" "Bukan hanya membaca, aku kira aku tahu dimana Hannah sekarang." Wajahnya tiba-tiba pucat. "Hannah? Kau tahu dimana ia sekarang? Bagaimana kabarnya? Apakah ia masih secantik dulu? Katakan, katakan padaku," ia memohon. "Ia baik-baik saja, dan masih tetap secantik seperti saat anda mengenalnya," kataku lembut. Lelaki tua itu tersenyum dan meminta, "Maukah anda mengatakan padaku dimana ia sekarang? Aku akan meneleponnya esok." Ia menggenggam tanganku, "Tahukah kau anak muda, aku masih mencintainya. Dan saat surat itu datang hidupku terasa berhenti. Aku belum pernah menikah, aku selalu mencintainya."

"Michael," kataku, "Ayo ikuti aku." Lalu kami menuruni tangga ke lantai tiga. Lorong-lorong gedung itu sudah gelap. Hanya satu atau dua lampu kecil menyala menerangi jalan kami menuju ruang tengah di mana Hannah masih duduk sendiri menonton TV. Perawat mendekatinya perlahan.

"Hannah," kata perawat itu lembut. Ia menunjuk ke arah Michael yang sedang berdiri di sampingku di pintu masuk. "Apakah anda tahu pria ini?" Hannah membetulkan kacamatanya, melihat sejenak, dan terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun. Michael berkata pelan, hampir-hampir berbisik, "Hannah, ini aku, Michael. Apakah kau masih ingat padaku?" Hannah gemetar, "Michael! Aku tak percaya. Michael! Kau! Michaelku!" Michael berjalan perlahan ke arah Hannah. Mereka lalu berpelukan. Perawat dan aku meninggalkan mereka dengan air mata menitik di wajah kami. "Lihatlah," kataku. "Lihatlah, bagaimana Tuhan berkehendak. Bila Ia berkehendak, maka jadilah."

Sekitar tiga minggu kemudian, di kantor aku mendapat telepon dari rumah panti jompo itu. "Apakah anda berkenan untuk hadir di sebuah pesta perkimpoian di hari Minggu mendatang? Michael dan Hannah akan menikah!" Dan pernikahan itu, pernikahan yang indah. Semua orang di panti jompo itu mengenakan pakaian terbaik mereka untuk ikut merayakan pesta. Hannah mengenakan pakaian abu-abu terang dan tampak cantik. Sedangkan Michael mengenakan jas hitam dan berdiri tegak. Mereka menjadikan aku sebagai wali mereka. Rumah panti jompo memberi hadiah kamar bagi mereka.

Dan bila anda ingin melihat bagaimana sepasang pengantin berusia 76 dan 79 tahun bertingkah seperti anak remaja, anda harus melihat pernikahan pasangan ini. Akhir yang sempurna dari sebuah hubungan cinta yang tak pernah padam selama 60 tahun.


"Pengorbanan Seorang Ibu"


Cerita tentang Cinta Sejati... Its a nice story..

Seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan
bertanya kepada dokter,
" Bisa saya melihat bayi saya ?"

Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan
ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki
yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya.
Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang
ke arah luar jendela rumah sakit.
Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi
seorang anak itu bekerja dengan sempurna.
Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.
Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya
di pelukan sang ibu yang menangis.
Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi.

Anak lelaki itu terisak-isak berkata,
" Ma, seorang anak laki-laki besar mengejek saya.
Katanya, saya ini makhluk aneh."

Anak lelaki itu tumbuh dewasa.
Ia cukup tampan dengan cacatnya.
Ia pun disukai teman-teman sekolahnya.
Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis.
Ia ingin sekali menjadi ketua kelas.

Ibunya mengingatkan,
" Bukankah nantinya kamu akan bergaul dengan remaja-remaja lain ?"

Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.
Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa
mencangkokkan telinga untuknya.

Dokter itu berkata,
" Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya.
Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya."

Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan
telinga dan mendonorkannya pada mereka.
Beberapa bulan sudah berlalu.
Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya.

Sang ayah berkata,
" Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan
telinganya padamu.
Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi.
Namun, semua ini sangatlah rahasia."

Operasi berjalan dengan sukses.
Seorang lelaki baru pun lahirlah.
Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan.

Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat.

Ia menemui ayahnya,
" Pa, saya harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua
pada saya.
Oranf itu telah berbuat sesuatu yang besar namun saya sama sekali belum
membalas kebaikannya."

Ayahnya menjawab,
" Papa yakin kamu takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah
memberikan telinga itu."

Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan,
" Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagi kamu untuk mengetahui semua
rahasia ini."

Tahun berganti tahun.
Kedua orangtua itu tetap menyimpan rahasia.
Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu.

Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya
yang baru saja meninggal.
Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang
terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak
memiliki telinga.

Sang ayah berbisik,
" Mama kamu pernah berkata bahwa Mama senang sekali bisa memanjangkan
rambutnya.
Dan tak seorang pun menyadari bahwa Mama telah kehilangan sedikit
kecantikannya bukan ?"

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam batin.
Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat,
namun pada apa yang tidak dapat terlihat.
Cinta yang sejati tidak terletak pada perbuatan kasih yang telah dikerjakan
dan diketahui, namun pada perbuatan kasih yang telah dikerjakan
namun tidak diketahui....
 
diposkan oleh "cerpen islami" 7 juni 2012

"Anak Cacat Itu Bernama SALIM"

Belum sampai 30 tahun usiaku ketika istriku melahirkan anak pertamaku. Masih aku ingat malam itu, dimana aku menghabiskan malam bersama dengan teman-temanku hingga akhir malam, dimana waktu semalaman aku isi dengan ghibah dan komentar-komentar yang haram. Akulah yang paling banyak membuat mereka tertawa, membicarakan aib manusia, dan mereka pun tertawa.Aku ingat malam itu, dimana aku membuat mereka banyak tertawa. Aku punya bakat luar biasa untuk membuat mereka tertawa. Aku bisa mengubah nada suara hingga menyeruapi orang yang aku tertawakan. Aku menertawakan ini dan itu, hingga tidak ada seorangpun yang selamat dari tertawaanku walaupun ia adalah para sahabatku. Hingga akhirnya sebagian dari mereka menjauhiku agar selamat dari lisanku.Aku ingat pada malam itu aku mengejek seorang yang buta, yang aku melihatnya sedang mengemis di pasar. Lebih buruk lagi, aku meletakkan kakiku di depannya untuk mendorongnya hingga ia goyah dan jatuh, hingga dia berpaling dengan kepalanya dan tidak mengetahui apa yang ia katakan. Leluconku menyebabkan orang-orang yang ada di pasar tertawa.Aku kembali ke rumah dalam keadaan terlambat seperti biasa. Aku mendapati istriku yang sedang menungguku tengah bersedih. Dia bertanya padaku, darimana saja kamu? Aku menjawabnya dengan sinis, “Aku lelah.” Kelelahan tampak jelas diwajahnya. Ia berkata dengan menangis tersedu, “Aku lelah sekali, tampaknya waktu persalinanku sudah dekat.”

Dalam diamnya, air matanya menetes di pipinya. Aku merasa bahwa aku telah mengabaikan istriku dalam hal ini. Seharusnya aku memperhatikannya dan mengurangi begadangku, lebih khusus di bulan kesembilan dari kehamilannya ini. Akhirnya, aku membawanya ke rumah sakit dengan segera dan aku masuk ke ruang bersalin. Aku seakan merasakan sakit yang sangat beberapa saat. Aku menunggu persalinan istriku dengan sabar, tapi ternyata sulit sekali proses persalinannya. Aku menunggu lama sekali hingga aku kelelahan. Maka aku pulang ke rumah dengan meninggalkan nomor HP ku di rumah sakit dengan harapan mereka mengabariku.

Setelah beberapa saat, mereka menghubungiku dengan kelahiran Salim. Maka aku bergegas ke rumah sakit. Pertama kali mereka melihatku, aku bertanya tentang kamarnya. Tetapi mereka memintaku untuk menemui dokter yang bertanggung jawab dalam proses persalinan istriku. Aku berteriak kepada mereka: “Dokter apa? Aku hanya perlu melihat anakku.” Akan tetapi mereka mengatakan: “Anda harus menemui dokter terlebih dahulu.”

Akhirnya aku menemui dokter tersebut. Lantas dia berbicara kepadaku tentang musibah dan ridha terhadap takdir. Kemudian ia berkata: “Mata kedua anak anda buruk, dan sepertinya dia akan kehilangan penglihatannya!”

Aku menundukkan kepala dan berusaha mengendalikan ucapanku. Aku jadi teringat dengan pengemis buta yang aku dorong di pasar dan menertawakannya di hadapan manusia.

Maha Suci Allah, sebagaimana engkau mengutuk, maka engkau akan dikutuk. Aku sangat sedih dan tidak mengetahui apa yang aku katakan. Kemudian aku ingat istri dan anakku. Aku berterima kasih kepada dokter atas kelemah lembutannya, lantas aku berlalu dan tidak melihat istriku. Adapun istriku maka dia tidak bersedih, dia ridha dan beriman terhadap takdir Allah. Seringkali ia menasehatiku untuk menjaga diri dari menertawakan orang lain, dan ia juga senantiasa mengulang-ulanginya agar aku tidak ghibah.

Kami keluar dari rumah sakit bersama Salim. Sungguh, aku tidak banyak memperhatikannya. Aku menganggapnya tidak ada di rumah. Ketika tangisannya sangat keras, aku lari ke lorong untuk tidur di sana. Sedangkan istriku sangat memperhatikan dan mencintainya. Sebenarnya aku tidak membencinya, tetapi masih belum bisa mencintainya.

Salim pun semakin besar. Mulailah dia merangkak, akan tetapi cara merangkaknya aneh. Umurnya hampir setahun, dan mulailah dia berjalan. Maka semakin jelas jika dia pincang. Maka beban yang berada di pundakku semakin besar. Setelah itu istriku melahirkan anak yang normal setelahnya, Umar dan Khalid. Berlalulah beberapa tahun dan Salim semakin besar, dan tumbuh besar pula saudara-saudaranya. Aku sendiri tidak seberapa suka duduk-duduk di rumah, seringkali aku menghabiskan waktu bersama dengan teman-temanku.

Istriku tidak pernah putus asa untuk senantiasa menasehatiku. Dia senantiasa mendoakanku agar mendapat hidayah. Dia tidak pernah marah terhadap perbuatanku yang gegabah. Akan tetapi, ia sangat bersedih jika melihatku banyak memperhatikan saudara-saudara Salim, sementara kepada Salim aku meremehkannya. Salim semakin besar dan harapanku kepadanya juga semakin besar. Aku tidak melarang ketika istriku memintaku agar mendaftarkan Salim di salah satu sekolah khusus penyandang cacat. Tidak terasa aku telah melalui beberapa tahun hanya aku gunakan untuk bekerja, tidur, makan dan begadang dengan teman-temanku.

Pada hari Jumat, aku bangun pada pukul 11.00 waktu zhuhur. Dan ini masih terlalu pagi bagiku, dimana ketika itu aku diundang untuk menghadiri suatu perjamuan. Aku berpakaian, mengenakan wewangian dan hendak keluar. Aku berjalan melalui lorong rumah, namun wajah Salim menghentikan langkahku. Dia menangis dengan meluap-luap!

Ini adalah kali pertama aku memperhatikan Salim semenjak dia masih kecil. Telah berlalu 10 tahun, tetapi aku tidak pernah memperhatikannya. Aku mencoba untuk pura-pura tidak tahu, tetapi tidak bisa. Aku mendengarkan suaranya yang sedang memanggil ibunya, sementara aku sendiri berada di dalam kamar. Aku melihatnya dan berusaha mendekat kepadanya. Aku berkata: “Salim, mengapa engkau menangis?” Ketika mendengar suaraku, ia berhenti menangis. Maka ketika ia merasa aku telah berada di dekatnya, dia mulai merasakan apa yang ada di sekitarnya dengan kedua tangannya yang kecil. Dengan apakah dia melihat? Aku merasa bahwa dia berusaha untuk menjauh dariku!! Seolah-olah ia berkata: “Sekarang engkau telah merasakan keberadaanku. Dimana saja engkau selama 10 tahun yang lalu?!” Aku mengikutinya, ia masuk ke dalam kamarnya. Ia menolak memberitahukan kepadaku sebab dari tangisannya. Maka aku mencoba untuk berlemah lembut kepadanya. Mulailah Salim menjelaskan sebab tangisannya. Aku mendengar ucapannya, dan aku mulai bangkit.

Apakah kalian tahu apa yang menjadi sebabnya!! Saudaranya, Umar, terlambat, terlambat mengantarkannya pergi ke masjid, sebab ketika itu adalah shalat jumat, dia khawatir tidak mendapatkan shaf pertama. Ia memanggil Umar, ia memanggil ibunya, akan tetapi tidak ada yang menjawabnya, akhirnya ia menangis. Aku melihat airmata yang mengalir dari kedua matanya yang tertutup. Aku belum bisa memahami kata-katanya yang lain. Aku meletakkan tanganku kepadanya dan berkata: “Apakah untuk itu engkau menangis, wahai Salim…?!”

Dia berkata, “Ya…”

Aku telah lupa dengan teman-temanku, aku telah lupa dengan undangan perjamuan.

Aku berkata: “Salim, jangan bersedih! Tahukah engkau siapakah yang akan berangkat denganmu pada hari ini ke Masjid?”

Ia berkata: “Dengan Umar tentunya, tetapi ia selalu terlambat.”

Aku berkata: “Bukan, tetapi aku yang akan pergi bersamamu.”

Salim terkejut, ia seakan tidak percaya. Dia mengira aku mengolok-oloknya. Dia meneteskan airmata kemudian menangis. Aku mengusap airmatnya dengan tanganku dan aku pegang tangannya. Aku ingin mengantarkannya dengan mobil, tetapi ia menolak seraya mengatakan: “Masjidnya dekat, aku hanya ingin berjalan menuju masjid!”

Aku tidak ingat kapan kali terakhir aku masuk ke dalam masjid. Akan tetapi ini adalah kali pertama aku merasakan adanya takut dan penyesalan atas apa yang telah aku lalaikan selama beberapa tahun belakangan. Masjid itu dipenuhi dengan orang-orang yang shalat, kecuali aku mendapati Salim duduk di shaf pertama. Kami mendengarkan khutbah jumat bersama, dan dia shalat di sampingku. Bahkan, sebenarnya akulah yang shalat di sampingnya.

Setelah shalat, Salim meminta kepadaku sebuah mushaf. Aku merasa aneh, bagaimana dia akan membacanya padahal ia buta? Aku hampir saja mengabaikan permintaannya dan berpura-pura tidak mengetahui permintaannya. Akan tetapi aku takut jika aku melukai perasaannya. Akhirnya aku mengambilkan sebuah mushaf. Aku membuka mushaf dan memulainya dari surat al Kahfi. Terkadang aku membalik-balik lembaran, terkadang pula aku melihat daftar isinya. Maka ia mengambil mushaf itu dari tanganku kemudian meletakkannya. Aku berkata: “Ya Allah, bagaimana aku mendapatkan surat al kahfi, aku mencari-carinya hingga mendapatkannya di hadapannya!!”

Mulailah ia membaca surat itu dalam keadaan kedua matanya tertutup. Ya Allah…!! Ia telah hafal surat al Kahfi secara keseluruhan…!

Aku malu pada diriku sendiri. Aku memegang mushaf, namun aku rasakan seluruh anggota badanku menggigil. Aku baca dan aku baca. Aku berdoa kepada Allah agar mengampuniku dan memberi petunjuk kepadaku. Aku tidak kuasa, maka mulailah aku menangis seperti anak kecil. Manusia masih berada di masjid untuk mendirikan shalat sunnah. Aku malu pada mereka, maka mulailah aku menyembunyikan tangisanku. Maka berubahlah tangisan itu menjadi isakan.

Aku tidak merasakan apa-apa ketika itu kecuali melalui tangan kecil yang meraba wajahku dan mengusap kedua airmataku. Dialah Salim!! Aku dekap dia ke dadaku dan aku melihatnya. Aku berkata kepada diriku sendiri, “Engkau tidaklah buta wahai anakku, akan tetapi akulah yang buta, ketika aku bersyair di belakang orang fasiq yang menyeretku ke dalam api neraka.”

Kami kembali ke rumah. Istriku sangat gelisah terhadap Salim. Namun seketika itu juga kegelisahannya berubah menjadi airmata kebahagiaan ketika ia mengetahui bahwa aku telah shalat jumat bersama Salim.

Sejak saat itu, aku tidak pernah ketinggalan untuk mendirikan shalat jamaah di masjid. Aku telah meninggalkan teman-teman yang buruk. Sekarang aku telah mendapatkan banyak teman yang aku kenal di masjid. Aku merasakan nikmatnya iman bersama mereka. Aku mengetahui dari mereka banyak hal yang dilalaikan oleh dunia. Aku tidak pernah ketinggalan mendatangi kelompok-kelompok pengajian atau shalat witir. Aku telah mengkhatamkan al Quran beberapa kali dalam sebulan. Lisanku telah basah dengan dzikir agar Allah mengampuni dosa-dosaku berupa ghibah dan menertawakan manusia. Aku merasa lebih dekat dengan keluargaku. Hilang sudah ketakutan dan belas kasihan yang selama ini ada di mata istriku. Senyuman tidak pernah pergi menjauhi wajah anakku, Salim. Siapa yang melihatnya akan mengira bahwa dia adalah seorang malaikat dunia beserta isinya. Aku banyak memuji Allah atas segala nikmat-Nya.

Suatu hari, teman-temanku yang shalih menetapkan diri melakukan safar untuk berdakwah. Aku ragu-ragu untuk pergi. Aku melakukan istikharah dan bermusyawarah dengan istri. Aku merasa dia akan menolak keinginanku. Akan tetapi ternyata sebaliknya, ia menyetujui keinginanku! Aku sangat bahagia, bahkan ia memotivasiku. Dia telah melihat masa laluku, dimana aku melakukan safar tanpa musyawarah dengannya sebagai bentuk kefasiqan dan perbuatan jahat.

Aku menghadap ke arah Salim. Aku mengabarinya jika aku hendak melakukan safar. Maka dia memegangku dengan kedua tangannya yang masih kecil sebagai ungkapan selamat jalan.

Aku telah meninggalkan rumahku lebih dari satu bulan. Selama itu, aku masih senantiasa menghubungi istriku dan juga berbicara kepada anak-anakku selama ada kesempatan. Aku sangat rindu kepada mereka. Ah, betapa rindunya aku kepada Salim. Aku sangat ingin mendengarkan suaranya. Dialah satu-satunya yang belum berbicara denganku semenjak aku melakukan safar. Bisa jadi karena dia berada di sekolah, bisa juga dia berada di masjid ketika aku menghubungi mereka.

Setiap kali aku berbicara dengan istriku perihal kerinduanku padanya (Salim), maka ia tertawa suka cita dan bahagia. Kecuali kali terakhir aku meneleponnya, aku tidak mendengar tawanya seperti biasa, suaranya berubah.

Aku berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Salim.” Istriku menjawab: “Insya Allah…!” Kemudian ia terdiam.

Terakhir, aku pun kembali ke rumah. Aku ketuk pintu. Aku berangan-angan jika Salim yang akan membukakan pintu itu. Akan tetapi, aku mendapati anakku Khalid yang usianya belum sampai 4 tahun membukakan pintu. Aku gendong dia, dan dia berteriak-teriak: “Baba…baba…”

Aku tidak tahu kenapa dadaku berdebar ketika memasuki rumah.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Istriku menyambutku. Wajahnya mulai berubah, seolah-olah kebahagiaannya dibuat-buat.

Aku perhatikan ia baik-baik kemudian aku bertanya: “Ada apa denganmu?”

Ia berkata: “Tidak apa-apa.”

Tiba-tiba aku teringat Salim, maka aku berkata: “Dimana Salim.”

Istriku menundukkan wajahnya dan tidak menjawab. Airmata yang masih hangat menetes di pipinya.

Aku berteriak, “Salim…! Di mana Salim?”

Aku mendengar suara anakku Khalid yang hanya bisa mengatakan: “Baba…”

“Salim telah melihat surga,” kata istriku.

Istriku tidak kuasa dengan situasi ketika itu. Ia hendak menangis, hampir saja ia pingsan. Maka kemudian aku keluar dari kamar.

Aku tahu setelah itu, bahwa Salim terserang panas yang sangat tinggi beberapa hari sebelum kedatanganku. Istriku telah membawanya ke rumah sakit, ketika tiba disana maka ia menghembuskan nafas terakhir. Ruhnya telah meninggalkan jasadnya.
Aku mengira, anda semua wahai para pembaca akan menangis, dan air mata anda akan mengalir sebagaimana air mata kami juga mengalir. Anda akan tersentuh sebagaimana kami juga tersentuh. Aku berharap Anda semua tidak lupa untuk mendoakan Salim, lebih khusus lagi bagi ibunya yang tetap teguh menjalankan tugasnya walaupun suaminya pergi. Jadilah ibu tersebut seperti perusahaan sebenarnya yang menghasilkan kaum laki-laki yang kuat. Semoga Allah membalas amal kebaikannya.(Pelaku dari kisah ini termasuk diantara dai yang ternama dan terkenal. Ia memiliki banyak rekaman, ceramah dan tulisan. Sumber diambil dari kisah yang berjudul “Allah Azza wa Jalla memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki”, majalah Qiblati edisi 02 thn VII)