Belum sampai 30 tahun usiaku
ketika istriku melahirkan anak pertamaku. Masih aku ingat malam itu,
dimana aku menghabiskan malam bersama dengan teman-temanku hingga akhir
malam, dimana waktu semalaman aku isi dengan
ghibah dan komentar-komentar yang haram. Akulah yang paling banyak
membuat mereka tertawa, membicarakan aib manusia, dan mereka pun
tertawa.Aku ingat malam itu, dimana aku membuat mereka banyak tertawa.
Aku punya bakat luar biasa untuk membuat mereka tertawa. Aku bisa
mengubah nada suara hingga menyeruapi orang yang aku tertawakan. Aku
menertawakan ini dan itu, hingga tidak ada seorangpun yang selamat dari
tertawaanku walaupun ia adalah para sahabatku. Hingga akhirnya sebagian
dari mereka menjauhiku agar selamat dari lisanku.Aku ingat pada malam
itu aku mengejek seorang yang buta, yang aku melihatnya sedang mengemis
di pasar. Lebih buruk lagi, aku meletakkan kakiku di depannya untuk
mendorongnya hingga ia goyah dan jatuh, hingga dia berpaling dengan
kepalanya dan tidak mengetahui apa yang ia katakan. Leluconku
menyebabkan orang-orang yang ada di pasar tertawa.Aku kembali ke rumah
dalam keadaan terlambat seperti biasa. Aku mendapati istriku yang sedang
menungguku tengah bersedih. Dia bertanya padaku, darimana saja kamu?
Aku menjawabnya dengan sinis, “Aku lelah.” Kelelahan tampak jelas
diwajahnya. Ia berkata dengan menangis tersedu, “Aku lelah sekali,
tampaknya waktu persalinanku sudah dekat.”
Dalam diamnya, air
matanya menetes di pipinya. Aku merasa bahwa aku telah mengabaikan
istriku dalam hal ini. Seharusnya aku memperhatikannya dan mengurangi
begadangku, lebih khusus di bulan kesembilan dari kehamilannya ini.
Akhirnya, aku membawanya ke rumah sakit dengan segera dan aku masuk ke
ruang bersalin. Aku seakan merasakan sakit yang sangat beberapa saat.
Aku menunggu persalinan istriku dengan sabar, tapi ternyata sulit sekali
proses persalinannya. Aku menunggu lama sekali hingga aku kelelahan.
Maka aku pulang ke rumah dengan meninggalkan nomor HP ku di rumah sakit
dengan harapan mereka mengabariku.
Setelah beberapa saat,
mereka menghubungiku dengan kelahiran Salim. Maka aku bergegas ke rumah
sakit. Pertama kali mereka melihatku, aku bertanya tentang kamarnya.
Tetapi mereka memintaku untuk menemui dokter yang bertanggung jawab
dalam proses persalinan istriku. Aku berteriak kepada mereka: “Dokter
apa? Aku hanya perlu melihat anakku.” Akan tetapi mereka mengatakan:
“Anda harus menemui dokter terlebih dahulu.”
Akhirnya aku
menemui dokter tersebut. Lantas dia berbicara kepadaku tentang musibah
dan ridha terhadap takdir. Kemudian ia berkata: “Mata kedua anak anda
buruk, dan sepertinya dia akan kehilangan penglihatannya!”
Aku
menundukkan kepala dan berusaha mengendalikan ucapanku. Aku jadi
teringat dengan pengemis buta yang aku dorong di pasar dan
menertawakannya di hadapan manusia.
Maha Suci Allah,
sebagaimana engkau mengutuk, maka engkau akan dikutuk. Aku sangat sedih
dan tidak mengetahui apa yang aku katakan. Kemudian aku ingat istri dan
anakku. Aku berterima kasih kepada dokter atas kelemah lembutannya,
lantas aku berlalu dan tidak melihat istriku. Adapun istriku maka dia
tidak bersedih, dia ridha dan beriman terhadap takdir Allah. Seringkali
ia menasehatiku untuk menjaga diri dari menertawakan orang lain, dan ia
juga senantiasa mengulang-ulanginya agar aku tidak ghibah.
Kami
keluar dari rumah sakit bersama Salim. Sungguh, aku tidak banyak
memperhatikannya. Aku menganggapnya tidak ada di rumah. Ketika
tangisannya sangat keras, aku lari ke lorong untuk tidur di sana.
Sedangkan istriku sangat memperhatikan dan mencintainya. Sebenarnya aku
tidak membencinya, tetapi masih belum bisa mencintainya.
Salim
pun semakin besar. Mulailah dia merangkak, akan tetapi cara merangkaknya
aneh. Umurnya hampir setahun, dan mulailah dia berjalan. Maka semakin
jelas jika dia pincang. Maka beban yang berada di pundakku semakin
besar. Setelah itu istriku melahirkan anak yang normal setelahnya, Umar
dan Khalid. Berlalulah beberapa tahun dan Salim semakin besar, dan
tumbuh besar pula saudara-saudaranya. Aku sendiri tidak seberapa suka
duduk-duduk di rumah, seringkali aku menghabiskan waktu bersama dengan
teman-temanku.
Istriku tidak pernah putus asa untuk senantiasa
menasehatiku. Dia senantiasa mendoakanku agar mendapat hidayah. Dia
tidak pernah marah terhadap perbuatanku yang gegabah. Akan tetapi, ia
sangat bersedih jika melihatku banyak memperhatikan saudara-saudara
Salim, sementara kepada Salim aku meremehkannya. Salim semakin besar dan
harapanku kepadanya juga semakin besar. Aku tidak melarang ketika
istriku memintaku agar mendaftarkan Salim di salah satu sekolah khusus
penyandang cacat. Tidak terasa aku telah melalui beberapa tahun hanya
aku gunakan untuk bekerja, tidur, makan dan begadang dengan
teman-temanku.
Pada hari Jumat, aku bangun pada pukul 11.00
waktu zhuhur. Dan ini masih terlalu pagi bagiku, dimana ketika itu aku
diundang untuk menghadiri suatu perjamuan. Aku berpakaian, mengenakan
wewangian dan hendak keluar. Aku berjalan melalui lorong rumah, namun
wajah Salim menghentikan langkahku. Dia menangis dengan meluap-luap!
Ini adalah kali pertama aku memperhatikan Salim semenjak dia masih
kecil. Telah berlalu 10 tahun, tetapi aku tidak pernah memperhatikannya.
Aku mencoba untuk pura-pura tidak tahu, tetapi tidak bisa. Aku
mendengarkan suaranya yang sedang memanggil ibunya, sementara aku
sendiri berada di dalam kamar. Aku melihatnya dan berusaha mendekat
kepadanya. Aku berkata: “Salim, mengapa engkau menangis?” Ketika
mendengar suaraku, ia berhenti menangis. Maka ketika ia merasa aku telah
berada di dekatnya, dia mulai merasakan apa yang ada di sekitarnya
dengan kedua tangannya yang kecil. Dengan apakah dia melihat? Aku merasa
bahwa dia berusaha untuk menjauh dariku!! Seolah-olah ia berkata:
“Sekarang engkau telah merasakan keberadaanku. Dimana saja engkau selama
10 tahun yang lalu?!” Aku mengikutinya, ia masuk ke dalam kamarnya. Ia
menolak memberitahukan kepadaku sebab dari tangisannya. Maka aku mencoba
untuk berlemah lembut kepadanya. Mulailah Salim menjelaskan sebab
tangisannya. Aku mendengar ucapannya, dan aku mulai bangkit.
Apakah kalian tahu apa yang menjadi sebabnya!! Saudaranya, Umar,
terlambat, terlambat mengantarkannya pergi ke masjid, sebab ketika itu
adalah shalat jumat, dia khawatir tidak mendapatkan shaf pertama. Ia
memanggil Umar, ia memanggil ibunya, akan tetapi tidak ada yang
menjawabnya, akhirnya ia menangis. Aku melihat airmata yang mengalir
dari kedua matanya yang tertutup. Aku belum bisa memahami kata-katanya
yang lain. Aku meletakkan tanganku kepadanya dan berkata: “Apakah untuk
itu engkau menangis, wahai Salim…?!”
Dia berkata, “Ya…”
Aku telah lupa dengan teman-temanku, aku telah lupa dengan undangan perjamuan.
Aku berkata: “Salim, jangan bersedih! Tahukah engkau siapakah yang akan berangkat denganmu pada hari ini ke Masjid?”
Ia berkata: “Dengan Umar tentunya, tetapi ia selalu terlambat.”
Aku berkata: “Bukan, tetapi aku yang akan pergi bersamamu.”
Salim terkejut, ia seakan tidak percaya. Dia mengira aku
mengolok-oloknya. Dia meneteskan airmata kemudian menangis. Aku mengusap
airmatnya dengan tanganku dan aku pegang tangannya. Aku ingin
mengantarkannya dengan mobil, tetapi ia menolak seraya mengatakan:
“Masjidnya dekat, aku hanya ingin berjalan menuju masjid!”
Aku
tidak ingat kapan kali terakhir aku masuk ke dalam masjid. Akan tetapi
ini adalah kali pertama aku merasakan adanya takut dan penyesalan atas
apa yang telah aku lalaikan selama beberapa tahun belakangan. Masjid itu
dipenuhi dengan orang-orang yang shalat, kecuali aku mendapati Salim
duduk di shaf pertama. Kami mendengarkan khutbah jumat bersama, dan dia
shalat di sampingku. Bahkan, sebenarnya akulah yang shalat di
sampingnya.
Setelah shalat, Salim meminta kepadaku sebuah
mushaf. Aku merasa aneh, bagaimana dia akan membacanya padahal ia buta?
Aku hampir saja mengabaikan permintaannya dan berpura-pura tidak
mengetahui permintaannya. Akan tetapi aku takut jika aku melukai
perasaannya. Akhirnya aku mengambilkan sebuah mushaf. Aku membuka mushaf
dan memulainya dari surat al Kahfi. Terkadang aku membalik-balik
lembaran, terkadang pula aku melihat daftar isinya. Maka ia mengambil
mushaf itu dari tanganku kemudian meletakkannya. Aku berkata: “Ya Allah,
bagaimana aku mendapatkan surat al kahfi, aku mencari-carinya hingga
mendapatkannya di hadapannya!!”
Mulailah ia membaca surat itu
dalam keadaan kedua matanya tertutup. Ya Allah…!! Ia telah hafal surat
al Kahfi secara keseluruhan…!
Aku malu pada diriku sendiri. Aku
memegang mushaf, namun aku rasakan seluruh anggota badanku menggigil.
Aku baca dan aku baca. Aku berdoa kepada Allah agar mengampuniku dan
memberi petunjuk kepadaku. Aku tidak kuasa, maka mulailah aku menangis
seperti anak kecil. Manusia masih berada di masjid untuk mendirikan
shalat sunnah. Aku malu pada mereka, maka mulailah aku menyembunyikan
tangisanku. Maka berubahlah tangisan itu menjadi isakan.
Aku
tidak merasakan apa-apa ketika itu kecuali melalui tangan kecil yang
meraba wajahku dan mengusap kedua airmataku. Dialah Salim!! Aku dekap
dia ke dadaku dan aku melihatnya. Aku berkata kepada diriku sendiri,
“Engkau tidaklah buta wahai anakku, akan tetapi akulah yang buta, ketika
aku bersyair di belakang orang fasiq yang menyeretku ke dalam api
neraka.”
Kami kembali ke rumah. Istriku sangat gelisah terhadap
Salim. Namun seketika itu juga kegelisahannya berubah menjadi airmata
kebahagiaan ketika ia mengetahui bahwa aku telah shalat jumat bersama
Salim.
Sejak saat itu, aku tidak pernah ketinggalan untuk
mendirikan shalat jamaah di masjid. Aku telah meninggalkan teman-teman
yang buruk. Sekarang aku telah mendapatkan banyak teman yang aku kenal
di masjid. Aku merasakan nikmatnya iman bersama mereka. Aku mengetahui
dari mereka banyak hal yang dilalaikan oleh dunia. Aku tidak pernah
ketinggalan mendatangi kelompok-kelompok pengajian atau shalat witir.
Aku telah mengkhatamkan al Quran beberapa kali dalam sebulan. Lisanku
telah basah dengan dzikir agar Allah mengampuni dosa-dosaku berupa
ghibah dan menertawakan manusia. Aku merasa lebih dekat dengan
keluargaku. Hilang sudah ketakutan dan belas kasihan yang selama ini ada
di mata istriku. Senyuman tidak pernah pergi menjauhi wajah anakku,
Salim. Siapa yang melihatnya akan mengira bahwa dia adalah seorang
malaikat dunia beserta isinya. Aku banyak memuji Allah atas segala
nikmat-Nya.
Suatu hari, teman-temanku yang shalih menetapkan
diri melakukan safar untuk berdakwah. Aku ragu-ragu untuk pergi. Aku
melakukan istikharah dan bermusyawarah dengan istri. Aku merasa dia akan
menolak keinginanku. Akan tetapi ternyata sebaliknya, ia menyetujui
keinginanku! Aku sangat bahagia, bahkan ia memotivasiku. Dia telah
melihat masa laluku, dimana aku melakukan safar tanpa musyawarah
dengannya sebagai bentuk kefasiqan dan perbuatan jahat.
Aku
menghadap ke arah Salim. Aku mengabarinya jika aku hendak melakukan
safar. Maka dia memegangku dengan kedua tangannya yang masih kecil
sebagai ungkapan selamat jalan.
Aku telah meninggalkan rumahku
lebih dari satu bulan. Selama itu, aku masih senantiasa menghubungi
istriku dan juga berbicara kepada anak-anakku selama ada kesempatan. Aku
sangat rindu kepada mereka. Ah, betapa rindunya aku kepada Salim. Aku
sangat ingin mendengarkan suaranya. Dialah satu-satunya yang belum
berbicara denganku semenjak aku melakukan safar. Bisa jadi karena dia
berada di sekolah, bisa juga dia berada di masjid ketika aku menghubungi
mereka.
Setiap kali aku berbicara dengan istriku perihal
kerinduanku padanya (Salim), maka ia tertawa suka cita dan bahagia.
Kecuali kali terakhir aku meneleponnya, aku tidak mendengar tawanya
seperti biasa, suaranya berubah.
Aku berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Salim.” Istriku menjawab: “Insya Allah…!” Kemudian ia terdiam.
Terakhir, aku pun kembali ke rumah. Aku ketuk pintu. Aku berangan-angan
jika Salim yang akan membukakan pintu itu. Akan tetapi, aku mendapati
anakku Khalid yang usianya belum sampai 4 tahun membukakan pintu. Aku
gendong dia, dan dia berteriak-teriak: “Baba…baba…”
Aku tidak tahu kenapa dadaku berdebar ketika memasuki rumah.
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Istriku menyambutku. Wajahnya mulai berubah, seolah-olah kebahagiaannya dibuat-buat.
Aku perhatikan ia baik-baik kemudian aku bertanya: “Ada apa denganmu?”
Ia berkata: “Tidak apa-apa.”
Tiba-tiba aku teringat Salim, maka aku berkata: “Dimana Salim.”
Istriku menundukkan wajahnya dan tidak menjawab. Airmata yang masih hangat menetes di pipinya.
Aku berteriak, “Salim…! Di mana Salim?”
Aku mendengar suara anakku Khalid yang hanya bisa mengatakan: “Baba…”
“Salim telah melihat surga,” kata istriku.
Istriku tidak kuasa dengan situasi ketika itu. Ia hendak menangis, hampir saja ia pingsan. Maka kemudian aku keluar dari kamar.
Aku tahu setelah itu, bahwa Salim terserang panas yang sangat tinggi
beberapa hari sebelum kedatanganku. Istriku telah membawanya ke rumah
sakit, ketika tiba disana maka ia menghembuskan nafas terakhir. Ruhnya
telah meninggalkan jasadnya.
Aku mengira, anda semua wahai para
pembaca akan menangis, dan air mata anda akan mengalir sebagaimana air
mata kami juga mengalir. Anda akan tersentuh sebagaimana kami juga
tersentuh. Aku berharap Anda semua tidak lupa untuk mendoakan Salim,
lebih khusus lagi bagi ibunya yang tetap teguh menjalankan tugasnya
walaupun suaminya pergi. Jadilah ibu tersebut seperti perusahaan
sebenarnya yang menghasilkan kaum laki-laki yang kuat. Semoga Allah
membalas amal kebaikannya.(Pelaku dari kisah ini termasuk diantara dai
yang ternama dan terkenal. Ia memiliki banyak rekaman, ceramah dan
tulisan. Sumber diambil dari kisah yang berjudul “Allah Azza wa Jalla
memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki”, majalah Qiblati edisi
02 thn VII)
Senin, 06 Agustus 2012
"Anak Cacat Itu Bernama SALIM"
Rabu, 23 Mei 2012
tentang rasa
KETEGASAN UNTUK MEMBEBASKAN DIRI DARI CINTA YANG PALSU
SEAWAL MUNGKIN, AKAN MENYELAMATKAN HATI BAIKMU DALAM KETERLANJURAN YANG PANJANG
PENYESALANNYA.
KITA HARUS BISA MEMBEDAKAN ANTARA ORANG YANG KITA MAU DAN
YANG KITA BUTUHKAN
SESEORANG BISA BERUBAH TERGANTUNG SIAPA YANG MENDAMPINGINYA.
TAPI BISAKAH SEBUAH RASA MEMBERIKAN KITA SEMANGAT UNTUK
LEBIH BAIK? ENTAHLAH…
KARENA BEGITU CEPAT WAKTU MENGUBAH RASA..
-GPP-
SUKAMAJU, 160512
about a relationship
Masa sih kamu belum pernah
pacaran?
Begitulah rata-rata orang yang
baru kenal dan baru tahu kalau aku belum pernah pacaran sekalipun. Ya,
jomblowan sejati. Memang zaman sekarang pacaran itu mungkin bukan sesuatu yang
aneh. Anak-anak usia SD pun sekarang pasti ada yang sudah berpacaran.
Pacaran sekarang dianggap suatu
kebutuhan, seperti beberapa orang temanku, mereka terlihat benar-benar
menderita ketika tidak punya pacar lebih dari 1 bulan bahkan ada yang baru 3
hari menjomblo tapi sudah uring-uringan. Bahkan terlihat lebih menderita
daripada saat mereka tidak punya uang, salah seorang dari mereka sempat kutanya
kenapa bisa seperti itu dan jawabannya cukup mengejutkan. Dia menjawab kalau
tidak punya pacar tidak punya kegiatan untuk mengisi waktu. Jawaban yang sama
sekali tidak beralasan menurutku.
Kebanyakan anak muda zaman
sekarang menganggap pacaran adalah suatu kebutuhan, padahal kebutuhan mereka
sebenarnya adalah hanya ingin memiliki seseorang yang bisa membantu mereka
mengisi waktu mereka. Itu adalah alasan yang mereka katakan kepadaku. Sungguh
ironis memang, saat ini banyak orang lebih memikirkan bagaimana bisa
mendapatkan pacar daripada berpikir bagaimana menjalani hidup. Pacaran memang
tidak salah, namun yang salah adalah apa yang menjadi alasan untuk mereka
berpacaran.
Berdasarkan analisis ku selama
mendengarkan curhatan-curhatan teman-temanku. 70% dari mereka bermasalah dengan
pacar mereka karena ketidakpuasan mereka terhadap sikap sang pacar. Seperti
sikap ketidakpuasan pelanggan kepada pelayan restoran yang tidak bisa memenuhi
keinginan pelanggannya. Dan itu terjadi karena kesalahan persepsi mereka
terhadap maksud dari pacaran itu. Mereka yang memiliki persepsi bahwa pacaran
itu harus selalu mendapatkan perhatian dari sang pacar, sang pacar harus selalu
stand by saat pacarnya membutuhkan, menganggap bahwa pacar mereka hanyalah
milik mereka seorang tak ada orang lain yang boleh dekat bahkan ketika sang
pacar berbicara empat mata dengan lawan jenis atau sekedar sms-an atau
mengangkat telepon dari orang lainpun mereka bisa marah dan tidak terima. Tidak
memberi kabar selama 1 jam saja langsung menjadi masalah, tidak bisa datang
pada saat pacar butuh teman atau sekedar ingin jalan-jalan langsung perang
dingin, telat balas sms atau telat angkat telpon marah. Salah bicara padahal hanya bercanda langsung
berkoar pedas seperti pada orang yang selalu mengejek dan menjelek-jelekkan
namanya setiap hari.
Yang mereka butuhkan dari pacar
sebetulnya hanya satu, yaitu sebagai tempat untuk mengisi waktu mereka. Ketika sang
pacar tidak mampu menemani pacarnya ketika dia kebingungan menghabiskan waktu,
anda pasti sudah dapat membayangkan apa yang terjadi. Dan itulah keironisan
yang sedang booming saat ini. Semuanya terjadi karena kebiasaan mereka yang
salah, dengan memanfaatkan orang lain untuk menyenangkan diri sendiri, saya
berani berspekulasi 70% dari orang yang pacaran ketika mereka memikirkan ingin
pacaran yang mereka pikirkan adalah ingin membuat dirinya bahagia, jarang dari
mereka yang menjawab untuk kebahagiaan saya dengan pacar saya. Hampir semua
dalam hati kecil mereka menjawab karena saya ingin blablablablabla… itu
tandanya anda telah merampas kebebasan orang lain untuk kesenangan anda
sendiri.
Memang tidak semua mereka yang
memiliki pacar akan berlaku seperti itu, banyak dari mereka yang sampai
sekarang telah menikah dengan pacar mereka. banyak dari mereka yang memang
mampu saling menjaga dan saling mengerti, tidak termakan keegoisan diri
sendiri, tidak memikirkan diri sendiri mereka lebih berorientasi pada kebahagiaan
pasangannya daripada dirinya sehingga pada akhirnya mereka akan saling
membahagiakan dalam keadaan apapun itu.
Menurut saya pacaran itu adalah
sebuah media untuk kita belajar berjalan dengan orang lain yang sama-sama belum
bisa berjalan, bukan sebagai tempat untuk mencari kebahagiaan. Karena ketika
kita mampu untuk belajar berjalan dengan orang lain yang belum bisa berjalan
kita akan saling menguatkan karena sama-sama mengerti dengan kekurangan kita
yang sama-sama tidak bisa berjalan. Jika kita kelelahan dia bersedia untuk
menunggu kita hingga kita mampu untuk berdiri kembali, jika kita terjatuh dia
bersedia untuk membangunkan kita dan membersihkan bagian tubuh kita yang
kotor,ketika dia terjatuh kitapun bersedia membangunkan dan membersihkan bagian
tubuh dia yang kotor, dia lelah kita bersedia menunggu hingga dia mampu berdiri
kembali. Ketika salah satu diantara mereka tak mampu lagi berjalan salah
satunya lagi dengan ikhlas dan tanpa diminta akan berusaha mengobati dan
menopang tubuhnya. Pacaran juga
merupakan media untuk kita belajar mengendalikan emosi, melawan kekurangan
kita, melatih keikhlasan, melatih kesabaran dan membuat kita terbiasa dengan
kesedihan dan kebahagiaan.
Sayapun banyak belajar dari
teman-teman saya yang pernah memiliki pacar tentang bagaimana mengkondisikan
perasaan dan emosi kita untuk mencapai tujuan kita berdua. Yaitu menikah. Namun
bagi saya berpacaran adalah hal yang sangat sacral dan tidak boleh dilaksanakan
secara sembarangan. Saya hanya akan berpacaran dengan orang yang telah saya
kenal baik watak dan perilakunya, tanggung jawab saya sebagai laki-laki
mengharuskan saya berpikiran seperti itu. Mengikat seseorang dengan ikatan
pacar adalah seperti mengajak anak kecil untuk bermain di tempat yang jauh.
Orang tua dan orang terdekat mereka mempercayakan dia untuk kita jaga dan dia
mempercayakan saya untuk menjaga dirinya.
Sekali lagi, tanyakan pada diri
anda, pada hati keil anda. Untuk apa anda berpacaran untuk apa anda berikatan
dengan seseorang, jika jawaban hati kecil adalah sebuah alasan maka saya
sarankan anda untuk segera mencari jawaban atas pertanyaan itu, bukan
alasannya.
“Benarkanlah persepsi anda
tentang suatu hal sebelum anda mengambil sikap terhadap hal tersebut, karena
persepsi yang salah akan menyebabkan cara bersikap yang salah dalam menjalani
suatu hal.”
-G.P.P, sukamaju 160512-
Senin, 14 Mei 2012
takdir dan kehidupan
Takdir…
Anda pasti pernah atau bahkan sering mendengar
kata ‘takdir’. Anda tau apa itu takdir? Ya, takdir adalah segala sesuatu yang
terjadi pada kita yang telah ditetapkan oleh tuhan. Baik itu sesuatu yang
menyenangkan ataupun menyedihkan bagi kita, namun jika sudah takdir tuhan maka
pasti sesuatu tersebut menimpa diri kita. Namun kebanyakan manusia kurang tepat
dalam menyikapi takdir tersebut, banyak diantara mereka yang menganggap segala
sesuatu adalah takdir yang telah ditentukan. Memang benar semua yang terjadi
pada kita telah direncanakan oleh tuhan, lantas apakah anda benar-benar
mengetahui apa yang tuhan rencanakan kepada hidup anda?
Ada dua macam
takdir manusia, yang pertama takdir yang bisa kita rubah dan takdir yang tidak
bisa kita rubah. Seorang perem[uan diciptakan di dunia ini sebagai seorang ibu
yang mengandung dan melahirkan seorang anak, itu adalah takdir tuhan yang tidak
bisa dirubah oleh siapapun dan apapun. Seorang anak pemulung dapat belajar di
UNiversitas terkenal dan ternama di Indonesia, itu adalah takdir yang bisa
dirubah sesuai dengan keinginan dan keteguhan anaka tersebut dalam
memperjuangkan takdirnya. Tentu gambaran masing-masing orang tentang takdir
berbeda-beda. Tergantung keimanan dan pengetahuan mereka tentang hidup.
Banyak saya
temukan diantara teman-teman saya yang dengan mudahnya menganggap segala
sesuatu sudah ditakdirkan, sehingga mereka tidak memiliki keinginan yang besar
untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Mereka menganggap kegagalan yang
mereka alami adalah takdir tuhan, memang benar namun kembali kepada pertanyaan
yang saya tanyakan pada awal paragraph, apakah kita benar-benar tahu rencana
tuhan mengenai hidup kita? Saya yakin jawabannya pasti tidak, tidak ada
seorangpun didunia ini yang mengetahui rencana tuhan untuk setiap mahluknya.
Namun satu yang saya yakini tuhan merencanakan kepada setiap manusia agar
mereka dapat belajar arti berusaha, bersabar dan bertawakal. Berusaha dengan
sekuat tenaga, sampai kaki kita benar-benar tidak bisa berjalan lagi sekalipun
kita harus tetap berusaha. Ketika usaha kita tidak menghasilkan apa yang kita
harapkan kita akan belajar sabar. Sabar untuk tetap terus berusaha dan
menjalani hidup dengan penuh rasa syukur. Kunci dalam hidup ini adalah
kesabaran. Ketika kita dibekali dengan kesabaran yang luar biasa, maka kita
akan menjadi orang yang paling damai. Sabar juga merupakan usaha, usaha untuk
menguasai diri kita dalam mengejar tujuan kita. Terakhir adalah tawakal,
menyerahkan dengan sepenuhnya hasil dari usaha kita kepada tuhan. Percaya bahwa
tuhan sudah mempunyai rencana dibalik kesedihan kita, kesenangan kita,
penderitaan kita dan kesenangan kita. Semua hanya berasal dari tuhan semata,
kita hanya mampu berusaha sebaik-baiknya.
pengalaman hidup
Setelah pada
artikel sebelumnya saya menjelaskan bagaimana memilih tujuan hidup yang baik
sesuai dengan persepsi dan kepercayaan kita. Kali ini saya akan bercerita
mengenai tujuan-tujuan hidup saya dalam hidup ini dan lika-liku perjalanan
dalam mengejar dan menentukan tujuan saya. Semoga anda sudah menemukan tujuan
hidup anda yang paling besar dan paling baik untuk diri anda dan orang-orang
yang anda sayangi.
Sebelumnya
perkenalkan dulu nama saya Galih Permana Putra, anda bisa memanggil saya dengan
nama Galih, Aih, Mbe, Kaming, Sutet, atau PePe. Mungkin anda agak sedikit aneh
dengan nama-nama panggilan saya. Namun nama-nama itulah yang paling sering
teman-teman saya gunakan untuk memanggil saya dan semua nama itu memiliki
sejarah masing-masing sehingga saya tidak menghilangkan satupun nama panggilan
saya karena saya ingin selalu mengenang dan tidak melupakan apa yang telah
menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Saya seorang anak yatim piatu, ayah
saya meninggal ketika saya masih berumur sekitar 5-6 tahun dan ibu saya
meninggal ketika saya SMP kelas 1. Dan sekarang saya berumur 21 tahun, kuliah
di salah satu PTS di Tasikmalaya. Di dunia ini saya hidup bersama 2 orang adik
laki-laki dan 2 orang kakak perempuan dan nenek saya tercinta yang telah
mengayomi dan membimbing saya selama ini.
Saya memiliki
cita-cita pertama saya pada saat SD kelas 1, itupun karena setiap murid di
kelas saya ditanya oleh guru kelas mengenai cita-cita mereka bukan karena
keinginan dan hasil pemikiran saya, dan saya menjawab ingin menjadi seorang
guru. Kenapa saya menjawab seperti itu? Entahlah, kata “guru” itulah yang
pertama kali saya ingat. Mungkin karena kedua orang tua saya seorang guru
sehingga saya akrab dengan kata “guru” tersebut. Namun seperti anak-anak SD
pada umumnya cita-cita itu tak bertahan lama kemudian saya berganti cita-cita
ingin menjadi seorang polisi karena seorang keluarga saya melihat postur tubuh
saya sewaktu kecil dulu terlihat besar dan kekar, walaupun sekarang lebih
seperti ‘ayam boyler’, besar tapi lembek. *Hehe :D*. Itulah cita-cita kedua
saya dan cita-cita pertama yang murni hasil dari pemikiran dan keinginan
pribadi saya.
Waktu berlalu
dari SD hingga SMA, setelah berjuang mengatasi rasa kehilangan karena kematian
ayah dan ibu saya dengan berbagai cara dari mulai kenakalan-kenakalan remaja
saat itu seperti minum-minuman keras, nongkrong sana nongkrong sini demi
mencari pengganti rasa kesepian dan kesedihan saya. Masa-masa SD-SMA kelas 2
saya lewati tanpa ada sesuatu yang berarti. Sampai saya menginjak kelas 2 SMA
tepatnya pada semester 2. Saya dididik oleh beberapa orang guru yang luar
biasa, mengajarkan kepada murid-muridnya mengenai kehidupan, mengenai pencarian
jati diri, mengenai ketabahan, mengenai kegigihan, mengenai tanggung jawab dan
mengenai cita-cita. Ada satu kejadian yang saya masih ingat persis sampai
sekarang, yaitu ketika saya di remedial ulangan mata pelajaran Biologi selama 5
kali dan tidak pernah bisa lulus. Namun itulah yang membuat saya sadar setelah
mendapatkan ceramah dari guru Biologi saya saat itu Ibu Hj. Iis namanya. Dari
sanalah saya mulai berpikir tanggung jawab dan menerima resiko dari apapun yang
saya lakukan. Kepala saya secara otomatis langsung terhubung dengan cepat
seperti koneksi Wi-Fi di Gedung DPRD yang sering saya gunakan untuk browsing
dan menimbulkan beberapa karakter pada layar pikiran saya. Kenapa saya hidup? Untuk apa saya hidup? Kenapa saya
sekolah? Kenapa saya begini? Kenapa saya begitu? Dan pertanyaan-pertanyaan lain
mengenai kehidupan saya. Jawaban yang saya temukan saat itu hanya dapat
menjawab dua pertanyaan saja yaitu saya hidup karena saya dilahirkan oleh Allah
melalui rahim ibu saya, dan saya sekolah karena ingin mendapatkan ilmu yang
bisa saya gunakan untuk mendapatkan pekerjaan saat nanti saya sudah dewasa. Sedangkan
pertanyaan-pertanyaan lain tidak bisa saya jawab.
Ketika
kelulusan SMA dan sebelum mendaftar ke perguruan tinggi, pada saat itulah saya
mulai berpikir mengenai apa yang saya inginkan dalam hidup ini khususnya dalam
keprofesian yang ingin saya miliki nanti. Saat itu saya teringat dengan
cita-cita saya sewaktu SD yaitu menjadi guru dan saat ini saya memiliki mata
pelajaran yang sangat saya senangi yaitu Biologi. Setelah berdiskusi dengan
kakak-kakak saya dan mereka memberikan kebebasan kepada saya untuk memilih jurusan dalam jenjang pendidikan saya yang
berikutnya yaitu ke perguruan tinggi, saya memutuskan untuk mengikuti tes masuk
di tempat saya kuliah sekarang dengan mengambil pilihan jurusan pertama pada
FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Biologi dan pilihan kedua pada FKM
(Fakultas Kesehatan Masyarakat). Minat saya dalam pelajaran biologi memang
cukup besar saat itu. Namun Allah berkehendak lain, saya gagal masuk ke jurusan
Biologi dan saya masuk ke Fakultas Kesehatan Masyarakat, tak apalah dalam ilmu
kesehatan juga tetap ada pelajaran biologi. Sedikit menghibur hati saya.
Setelah satu
semester saya masuk kuliah, saya mengikuti OTC (Organitation Training Centre) yang diadakan oleh BEM fakultas saya.
Dan menjadi anggota OR (Open Recruitment)
selama ± 1 tahun. Pada saat
menjadi anggota OR inilah kehidupan saya benar-benar berubah 180˚. Sangat amat banyak pelajaran
mengenai kehidupan yang saya dapat selama menjadi OR. Menjadi anggota OR selama
satu tahun mampu membuat saya mengenali diri saya, pertanyaan-pertanyaan saya
sewaktu SMA dulu mengenai kehidupan saya terjawab semua. Saya berubah menjadi
seseorang yang dewasa, bertanggung jawab dan bisa bekerja sama dengan orang
lain, tegas, dan rajin (menurut teman-teman saya). Saya juga bisa mengenali diri
saya yang keras kepala, kekanak-kanakan pada saat-saat tertentu, plin-plan,
kurang bisa mengatur keuangan dan waktu dan lain sebagainya. Semua itu saya
dapatkan setelah saya menjalani kehidupan di organisasi. ada satu kalimat yang
sampai sekarang masih membuat saya heran.
“Diri
kita saat ini, hari ini adalah hasil dari apa yang kita dapatkan pada masa lalu
dan hari kemarin dan yang kita dapatkan itu berasal dari pelajaran yang kita
sadari penerimaanya dan tidak kita sadari penerimaannya selama menjalani
hidup”.
Saya sama
sekali tidak berpikir bahwa semua yang terjadi pada saya sewaktu kecil sampai
saat itu membantu saya membentuk karakter pribadi saya. Karena selama ini saya
hanya menjalani hidup mengikuti apa yang telah Allah takdirkan tanpa memikirkan
manfaatnya pada diri saya. Saya bersyukur kepada Allah atas apa yang telah Dia
berikan pada hidup saya.
Sejak saat itu
saya mulai menyusun cita-cita saya dikemudian hari beserta dengan batas-batas
dan indicator yang harus saya capai sebagai tanda kesuksesan saya dalam
mengejar cita-cita saya. Semuanya tergambar jelas dalam benak saya, apa saja
yang akan saya lakukan selama kuliah dan apa yang saya lakukan pada saat
setelah lulus kuliah demi mencapai cita-cita yang telah saya tanam sendiri
dalam batin saya. Cita-cita tak perlu dikatakan atau diungkapkan pada orang
lain, jika seseorang bercita-cita mendapatkan sesuatu dan memiliki keinginan
untuk memperjuangkan cita-citanya itu, akan terlihat dengan sendirinya ketika
kita bersikap dan mengambil tindakan dalam menjalalni kehidupan ini. Karena
orang yang memiliki keinginan untuk memperjuangkan cita-citanya pasti memiliki
suatu aturan tak tertulis dalam memilih apa yang akan mereka lakukan. Dan ingat
jangan pernah menyerah dan jangan pernah kalah dengan semua keterbatasan yang
kita miliki di dunia ini. Putus asa hanya berlaku untuk orang-orang ‘bodoh’.
Tak ada yang tidak mungkin didunia ini selama kita mau berusaha. Dan ketika
kaki kita tak mampu lagi melangkah, mulut kita tak mampu lagi berucap, mata
kita tak mampu lagi menatap api semangat, telinga kita tak mampu lagi mendengar
teriakan semangat, hanya satu yang bisa kita lakukan “bertawakalah !!”
percayakan semua pada Allah. Dzat yang telah menciptakan kita dengan takdir
yang telah Dia tetapkan. Berdo’a dan berusahalah sampai batas terakhir
kemampuan kita. Semua yang kita usahakan Insyaallah akan mendapat hasil yang
sesuai dengan usaha yang kita lakukan.
tujuan hidup
Semua yang
kita lakukan dalam hidup ini pasti mempunyai tujuan baik itu hal-hal yang kecil
maupun hal yang besar. Selalu ada alasan dibalik cara kita dalam bersikap.
Misalnya saja, seorang anak yang berumur 5 bulan akan menangis bila dia sedang
menginginkan satu hal seperti ingin di gendong ibunya atau apapun yang
berhubungan dengan hal yang bias membuat dia senang namun karena anak kecil itu
belum bisa bicara maka cara penyampaian keinginannya ia sampaikan lewat
tangisan. Seorang anak kecil yang belum bisa bicarapun sudah dapat melakukan
sesuatu untuk mendapatkan tujuan yang diinginkannya.
Itu salah satu
contoh yang sangat kecil namun mungkin ada beberapa dari anda belum memahami
hal tersebut. Sekarang kita konversikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Adakah
hal-hal yang anda lakukan tanpa mempunyai tujuan? Apakah hal-hal yang kita
pikirkan itu bukan untuk memenuhi kebutuhan kita? Saya rasa hampir 100% dari
apa yang kita lakukan memiliki tujuan tertentu apapun itu tujuannya.
Setiap manusia
yang hidup dibumi secara alami memiliki sesuatu yang disebut dengan hasrat
untuk mendapatkan sesuatu yang disebut dengan tujuan atau cita-cita atau maksud
atau harapan atau apapun yang menggambarkan suatu keinginan. Anda suka makan? Untuk
apa anda makan? Anda suka jajan? Untuk apa anda jajan? Anda membuka pintu
rumah? Untuk apa anda membuka pintu rumah? Anda menonton televisi? Untuk apa
anda menonton televisi?
Dari pertanyaan-pertanyaan
diatas apakah ada jawaban anda yang tidak dilandaskan atas keinginan yang tidak
lain adalah inti dari sebuah tujuan. Pertanyaan itu berasal dari hal-hal kecil
yang telah menjadi rutinitas anda dalam kehidupan. Sekarang kita beranjak ke
hal-hal yang lebih besar. Anda bekerja? Untuk apa anda bekerja? Untuk apa anda
bekerja disana? Anda sekolah? Untuk apa anda sekolah? Untuk apa anda sekolah
disana? Anda menikah? Untuk apa anda menikah? Untuk apa anda menganut suatu
agama?
Apakah ada
jawaban anda dari pertanyaan-pertanyaan barusan yang tidak dilandaskan suatu
keinginan?
Jika ya, maka
dapat saya katakan anda adalah salah satu dari beribu miliar manusia yang
benar-benar hidup. Namun kesimpulan saya itu hanya berlaku bagi orang-orang
yang memiliki tujuan hidup yang luhur, tidak mementingkan kepentingan pribadi
dan tidak didasarkan atas hasrat yang berlebihan.
Kenapa saya
mengatakan hal itu? Karena sebetulnya dalam hidup ada satu syarat mutlak yang
harus dipenuhi oleh tiap orang yaitu memiliki tujuan atau cita-cita. Untuk apa
anda hidup jika anda tidak memiliki cita-cita? Anda hanya akan menjalani
kehidupan kosong yang tidak memiliki arti sama sekali.
Tujuan hidup
seseorang tidak selalu merupakan tujuan yang baik. Adakalanya seseorang
memiliki tujuan yang buruk, misalnya anda bekerja sebagai anggota dewan untuk
mendapatkan uang dari hasil korupsi atau ingin memiliki kendaraan bermotor
hanya demi dipandang orang yang mampu tanpa melihat kondisi ekonomi anda atau
keluarga anda. Banyak hal yang harus kita ketahui sebelum menentukan tujuan
hidup anda. Jika salah menentukan tujuan maka anda akan salah juga dalam
melakukan suatu hal dan tentu saja hasil yang salah walaupun tujuan anda
tercapai.
Anda semua
pasti sudah memahami apa yang saya maksudkan dalam salah-benarnya suatu tujuan.
Penilaian salah-benar suatu tujuan tergantung dari persepsi seseorang mengenai
kehidupan. Jika anda seorang yang menganggap yang berkuasa dalam kehidupan itu
adalah uang, uang dan uang tentu anda akan membenarkan ketika anda bertujuan
memiliki uang yang banyak tanpa melihat halal-haramnya uang tersebut sehingga
ketika anda merampas hak orang lain anda tidak merasa bersalah karena tujuan
anda hanya mendapatkan uang. Berbeda jika anda seorang yang berpersepsi bahwa
hidup bukan hanya untuk uang tapi juga untuk mendapatkan ridho Allah (jika anda
beragama islam), walaupun pada akhirnya tujuan anda sama yaitu mendapatkan
banyak uang namun cara dalam mewujudkan cita-cita tersebut dalam jalur yang
sesuai dengan aturan-aturan agama yang anda anut.
Jadi sebelum
anda menentukan apa tujuan hidup anda matangkan dulu persepsi anda mengenai hidup
ini, analisis terlebih dulu apakah persepsi kita selama ini mengenai hidup itu
sudah berada pada jalur yang benar atau belum. Pelajari norma-norma yang ada di
masyarakat kita, pelajari agama anda dengan lebih dalam lagi karena dapat
mencapai tujuan hidup anda saja itu tidak cukup, namun harus disertai dengan
proses dan cara yang benar dalam mengejar tujuan hidup anda agar anda tidak
menjadi orang yang salah langkah.
Langganan:
Postingan (Atom)