Senin, 06 Agustus 2012

"Anak Cacat Itu Bernama SALIM"

Belum sampai 30 tahun usiaku ketika istriku melahirkan anak pertamaku. Masih aku ingat malam itu, dimana aku menghabiskan malam bersama dengan teman-temanku hingga akhir malam, dimana waktu semalaman aku isi dengan ghibah dan komentar-komentar yang haram. Akulah yang paling banyak membuat mereka tertawa, membicarakan aib manusia, dan mereka pun tertawa.Aku ingat malam itu, dimana aku membuat mereka banyak tertawa. Aku punya bakat luar biasa untuk membuat mereka tertawa. Aku bisa mengubah nada suara hingga menyeruapi orang yang aku tertawakan. Aku menertawakan ini dan itu, hingga tidak ada seorangpun yang selamat dari tertawaanku walaupun ia adalah para sahabatku. Hingga akhirnya sebagian dari mereka menjauhiku agar selamat dari lisanku.Aku ingat pada malam itu aku mengejek seorang yang buta, yang aku melihatnya sedang mengemis di pasar. Lebih buruk lagi, aku meletakkan kakiku di depannya untuk mendorongnya hingga ia goyah dan jatuh, hingga dia berpaling dengan kepalanya dan tidak mengetahui apa yang ia katakan. Leluconku menyebabkan orang-orang yang ada di pasar tertawa.Aku kembali ke rumah dalam keadaan terlambat seperti biasa. Aku mendapati istriku yang sedang menungguku tengah bersedih. Dia bertanya padaku, darimana saja kamu? Aku menjawabnya dengan sinis, “Aku lelah.” Kelelahan tampak jelas diwajahnya. Ia berkata dengan menangis tersedu, “Aku lelah sekali, tampaknya waktu persalinanku sudah dekat.”

Dalam diamnya, air matanya menetes di pipinya. Aku merasa bahwa aku telah mengabaikan istriku dalam hal ini. Seharusnya aku memperhatikannya dan mengurangi begadangku, lebih khusus di bulan kesembilan dari kehamilannya ini. Akhirnya, aku membawanya ke rumah sakit dengan segera dan aku masuk ke ruang bersalin. Aku seakan merasakan sakit yang sangat beberapa saat. Aku menunggu persalinan istriku dengan sabar, tapi ternyata sulit sekali proses persalinannya. Aku menunggu lama sekali hingga aku kelelahan. Maka aku pulang ke rumah dengan meninggalkan nomor HP ku di rumah sakit dengan harapan mereka mengabariku.

Setelah beberapa saat, mereka menghubungiku dengan kelahiran Salim. Maka aku bergegas ke rumah sakit. Pertama kali mereka melihatku, aku bertanya tentang kamarnya. Tetapi mereka memintaku untuk menemui dokter yang bertanggung jawab dalam proses persalinan istriku. Aku berteriak kepada mereka: “Dokter apa? Aku hanya perlu melihat anakku.” Akan tetapi mereka mengatakan: “Anda harus menemui dokter terlebih dahulu.”

Akhirnya aku menemui dokter tersebut. Lantas dia berbicara kepadaku tentang musibah dan ridha terhadap takdir. Kemudian ia berkata: “Mata kedua anak anda buruk, dan sepertinya dia akan kehilangan penglihatannya!”

Aku menundukkan kepala dan berusaha mengendalikan ucapanku. Aku jadi teringat dengan pengemis buta yang aku dorong di pasar dan menertawakannya di hadapan manusia.

Maha Suci Allah, sebagaimana engkau mengutuk, maka engkau akan dikutuk. Aku sangat sedih dan tidak mengetahui apa yang aku katakan. Kemudian aku ingat istri dan anakku. Aku berterima kasih kepada dokter atas kelemah lembutannya, lantas aku berlalu dan tidak melihat istriku. Adapun istriku maka dia tidak bersedih, dia ridha dan beriman terhadap takdir Allah. Seringkali ia menasehatiku untuk menjaga diri dari menertawakan orang lain, dan ia juga senantiasa mengulang-ulanginya agar aku tidak ghibah.

Kami keluar dari rumah sakit bersama Salim. Sungguh, aku tidak banyak memperhatikannya. Aku menganggapnya tidak ada di rumah. Ketika tangisannya sangat keras, aku lari ke lorong untuk tidur di sana. Sedangkan istriku sangat memperhatikan dan mencintainya. Sebenarnya aku tidak membencinya, tetapi masih belum bisa mencintainya.

Salim pun semakin besar. Mulailah dia merangkak, akan tetapi cara merangkaknya aneh. Umurnya hampir setahun, dan mulailah dia berjalan. Maka semakin jelas jika dia pincang. Maka beban yang berada di pundakku semakin besar. Setelah itu istriku melahirkan anak yang normal setelahnya, Umar dan Khalid. Berlalulah beberapa tahun dan Salim semakin besar, dan tumbuh besar pula saudara-saudaranya. Aku sendiri tidak seberapa suka duduk-duduk di rumah, seringkali aku menghabiskan waktu bersama dengan teman-temanku.

Istriku tidak pernah putus asa untuk senantiasa menasehatiku. Dia senantiasa mendoakanku agar mendapat hidayah. Dia tidak pernah marah terhadap perbuatanku yang gegabah. Akan tetapi, ia sangat bersedih jika melihatku banyak memperhatikan saudara-saudara Salim, sementara kepada Salim aku meremehkannya. Salim semakin besar dan harapanku kepadanya juga semakin besar. Aku tidak melarang ketika istriku memintaku agar mendaftarkan Salim di salah satu sekolah khusus penyandang cacat. Tidak terasa aku telah melalui beberapa tahun hanya aku gunakan untuk bekerja, tidur, makan dan begadang dengan teman-temanku.

Pada hari Jumat, aku bangun pada pukul 11.00 waktu zhuhur. Dan ini masih terlalu pagi bagiku, dimana ketika itu aku diundang untuk menghadiri suatu perjamuan. Aku berpakaian, mengenakan wewangian dan hendak keluar. Aku berjalan melalui lorong rumah, namun wajah Salim menghentikan langkahku. Dia menangis dengan meluap-luap!

Ini adalah kali pertama aku memperhatikan Salim semenjak dia masih kecil. Telah berlalu 10 tahun, tetapi aku tidak pernah memperhatikannya. Aku mencoba untuk pura-pura tidak tahu, tetapi tidak bisa. Aku mendengarkan suaranya yang sedang memanggil ibunya, sementara aku sendiri berada di dalam kamar. Aku melihatnya dan berusaha mendekat kepadanya. Aku berkata: “Salim, mengapa engkau menangis?” Ketika mendengar suaraku, ia berhenti menangis. Maka ketika ia merasa aku telah berada di dekatnya, dia mulai merasakan apa yang ada di sekitarnya dengan kedua tangannya yang kecil. Dengan apakah dia melihat? Aku merasa bahwa dia berusaha untuk menjauh dariku!! Seolah-olah ia berkata: “Sekarang engkau telah merasakan keberadaanku. Dimana saja engkau selama 10 tahun yang lalu?!” Aku mengikutinya, ia masuk ke dalam kamarnya. Ia menolak memberitahukan kepadaku sebab dari tangisannya. Maka aku mencoba untuk berlemah lembut kepadanya. Mulailah Salim menjelaskan sebab tangisannya. Aku mendengar ucapannya, dan aku mulai bangkit.

Apakah kalian tahu apa yang menjadi sebabnya!! Saudaranya, Umar, terlambat, terlambat mengantarkannya pergi ke masjid, sebab ketika itu adalah shalat jumat, dia khawatir tidak mendapatkan shaf pertama. Ia memanggil Umar, ia memanggil ibunya, akan tetapi tidak ada yang menjawabnya, akhirnya ia menangis. Aku melihat airmata yang mengalir dari kedua matanya yang tertutup. Aku belum bisa memahami kata-katanya yang lain. Aku meletakkan tanganku kepadanya dan berkata: “Apakah untuk itu engkau menangis, wahai Salim…?!”

Dia berkata, “Ya…”

Aku telah lupa dengan teman-temanku, aku telah lupa dengan undangan perjamuan.

Aku berkata: “Salim, jangan bersedih! Tahukah engkau siapakah yang akan berangkat denganmu pada hari ini ke Masjid?”

Ia berkata: “Dengan Umar tentunya, tetapi ia selalu terlambat.”

Aku berkata: “Bukan, tetapi aku yang akan pergi bersamamu.”

Salim terkejut, ia seakan tidak percaya. Dia mengira aku mengolok-oloknya. Dia meneteskan airmata kemudian menangis. Aku mengusap airmatnya dengan tanganku dan aku pegang tangannya. Aku ingin mengantarkannya dengan mobil, tetapi ia menolak seraya mengatakan: “Masjidnya dekat, aku hanya ingin berjalan menuju masjid!”

Aku tidak ingat kapan kali terakhir aku masuk ke dalam masjid. Akan tetapi ini adalah kali pertama aku merasakan adanya takut dan penyesalan atas apa yang telah aku lalaikan selama beberapa tahun belakangan. Masjid itu dipenuhi dengan orang-orang yang shalat, kecuali aku mendapati Salim duduk di shaf pertama. Kami mendengarkan khutbah jumat bersama, dan dia shalat di sampingku. Bahkan, sebenarnya akulah yang shalat di sampingnya.

Setelah shalat, Salim meminta kepadaku sebuah mushaf. Aku merasa aneh, bagaimana dia akan membacanya padahal ia buta? Aku hampir saja mengabaikan permintaannya dan berpura-pura tidak mengetahui permintaannya. Akan tetapi aku takut jika aku melukai perasaannya. Akhirnya aku mengambilkan sebuah mushaf. Aku membuka mushaf dan memulainya dari surat al Kahfi. Terkadang aku membalik-balik lembaran, terkadang pula aku melihat daftar isinya. Maka ia mengambil mushaf itu dari tanganku kemudian meletakkannya. Aku berkata: “Ya Allah, bagaimana aku mendapatkan surat al kahfi, aku mencari-carinya hingga mendapatkannya di hadapannya!!”

Mulailah ia membaca surat itu dalam keadaan kedua matanya tertutup. Ya Allah…!! Ia telah hafal surat al Kahfi secara keseluruhan…!

Aku malu pada diriku sendiri. Aku memegang mushaf, namun aku rasakan seluruh anggota badanku menggigil. Aku baca dan aku baca. Aku berdoa kepada Allah agar mengampuniku dan memberi petunjuk kepadaku. Aku tidak kuasa, maka mulailah aku menangis seperti anak kecil. Manusia masih berada di masjid untuk mendirikan shalat sunnah. Aku malu pada mereka, maka mulailah aku menyembunyikan tangisanku. Maka berubahlah tangisan itu menjadi isakan.

Aku tidak merasakan apa-apa ketika itu kecuali melalui tangan kecil yang meraba wajahku dan mengusap kedua airmataku. Dialah Salim!! Aku dekap dia ke dadaku dan aku melihatnya. Aku berkata kepada diriku sendiri, “Engkau tidaklah buta wahai anakku, akan tetapi akulah yang buta, ketika aku bersyair di belakang orang fasiq yang menyeretku ke dalam api neraka.”

Kami kembali ke rumah. Istriku sangat gelisah terhadap Salim. Namun seketika itu juga kegelisahannya berubah menjadi airmata kebahagiaan ketika ia mengetahui bahwa aku telah shalat jumat bersama Salim.

Sejak saat itu, aku tidak pernah ketinggalan untuk mendirikan shalat jamaah di masjid. Aku telah meninggalkan teman-teman yang buruk. Sekarang aku telah mendapatkan banyak teman yang aku kenal di masjid. Aku merasakan nikmatnya iman bersama mereka. Aku mengetahui dari mereka banyak hal yang dilalaikan oleh dunia. Aku tidak pernah ketinggalan mendatangi kelompok-kelompok pengajian atau shalat witir. Aku telah mengkhatamkan al Quran beberapa kali dalam sebulan. Lisanku telah basah dengan dzikir agar Allah mengampuni dosa-dosaku berupa ghibah dan menertawakan manusia. Aku merasa lebih dekat dengan keluargaku. Hilang sudah ketakutan dan belas kasihan yang selama ini ada di mata istriku. Senyuman tidak pernah pergi menjauhi wajah anakku, Salim. Siapa yang melihatnya akan mengira bahwa dia adalah seorang malaikat dunia beserta isinya. Aku banyak memuji Allah atas segala nikmat-Nya.

Suatu hari, teman-temanku yang shalih menetapkan diri melakukan safar untuk berdakwah. Aku ragu-ragu untuk pergi. Aku melakukan istikharah dan bermusyawarah dengan istri. Aku merasa dia akan menolak keinginanku. Akan tetapi ternyata sebaliknya, ia menyetujui keinginanku! Aku sangat bahagia, bahkan ia memotivasiku. Dia telah melihat masa laluku, dimana aku melakukan safar tanpa musyawarah dengannya sebagai bentuk kefasiqan dan perbuatan jahat.

Aku menghadap ke arah Salim. Aku mengabarinya jika aku hendak melakukan safar. Maka dia memegangku dengan kedua tangannya yang masih kecil sebagai ungkapan selamat jalan.

Aku telah meninggalkan rumahku lebih dari satu bulan. Selama itu, aku masih senantiasa menghubungi istriku dan juga berbicara kepada anak-anakku selama ada kesempatan. Aku sangat rindu kepada mereka. Ah, betapa rindunya aku kepada Salim. Aku sangat ingin mendengarkan suaranya. Dialah satu-satunya yang belum berbicara denganku semenjak aku melakukan safar. Bisa jadi karena dia berada di sekolah, bisa juga dia berada di masjid ketika aku menghubungi mereka.

Setiap kali aku berbicara dengan istriku perihal kerinduanku padanya (Salim), maka ia tertawa suka cita dan bahagia. Kecuali kali terakhir aku meneleponnya, aku tidak mendengar tawanya seperti biasa, suaranya berubah.

Aku berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Salim.” Istriku menjawab: “Insya Allah…!” Kemudian ia terdiam.

Terakhir, aku pun kembali ke rumah. Aku ketuk pintu. Aku berangan-angan jika Salim yang akan membukakan pintu itu. Akan tetapi, aku mendapati anakku Khalid yang usianya belum sampai 4 tahun membukakan pintu. Aku gendong dia, dan dia berteriak-teriak: “Baba…baba…”

Aku tidak tahu kenapa dadaku berdebar ketika memasuki rumah.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Istriku menyambutku. Wajahnya mulai berubah, seolah-olah kebahagiaannya dibuat-buat.

Aku perhatikan ia baik-baik kemudian aku bertanya: “Ada apa denganmu?”

Ia berkata: “Tidak apa-apa.”

Tiba-tiba aku teringat Salim, maka aku berkata: “Dimana Salim.”

Istriku menundukkan wajahnya dan tidak menjawab. Airmata yang masih hangat menetes di pipinya.

Aku berteriak, “Salim…! Di mana Salim?”

Aku mendengar suara anakku Khalid yang hanya bisa mengatakan: “Baba…”

“Salim telah melihat surga,” kata istriku.

Istriku tidak kuasa dengan situasi ketika itu. Ia hendak menangis, hampir saja ia pingsan. Maka kemudian aku keluar dari kamar.

Aku tahu setelah itu, bahwa Salim terserang panas yang sangat tinggi beberapa hari sebelum kedatanganku. Istriku telah membawanya ke rumah sakit, ketika tiba disana maka ia menghembuskan nafas terakhir. Ruhnya telah meninggalkan jasadnya.
Aku mengira, anda semua wahai para pembaca akan menangis, dan air mata anda akan mengalir sebagaimana air mata kami juga mengalir. Anda akan tersentuh sebagaimana kami juga tersentuh. Aku berharap Anda semua tidak lupa untuk mendoakan Salim, lebih khusus lagi bagi ibunya yang tetap teguh menjalankan tugasnya walaupun suaminya pergi. Jadilah ibu tersebut seperti perusahaan sebenarnya yang menghasilkan kaum laki-laki yang kuat. Semoga Allah membalas amal kebaikannya.(Pelaku dari kisah ini termasuk diantara dai yang ternama dan terkenal. Ia memiliki banyak rekaman, ceramah dan tulisan. Sumber diambil dari kisah yang berjudul “Allah Azza wa Jalla memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki”, majalah Qiblati edisi 02 thn VII)

Rabu, 23 Mei 2012

tentang rasa

KETEGASAN UNTUK MEMBEBASKAN DIRI DARI CINTA YANG PALSU SEAWAL MUNGKIN, AKAN MENYELAMATKAN HATI BAIKMU DALAM KETERLANJURAN YANG PANJANG PENYESALANNYA.
KITA HARUS BISA MEMBEDAKAN ANTARA ORANG YANG KITA MAU DAN YANG KITA BUTUHKAN
SESEORANG BISA BERUBAH TERGANTUNG SIAPA YANG MENDAMPINGINYA.
TAPI BISAKAH SEBUAH RASA MEMBERIKAN KITA SEMANGAT UNTUK LEBIH BAIK? ENTAHLAH…
KARENA BEGITU CEPAT WAKTU MENGUBAH RASA..

-GPP-
 SUKAMAJU, 160512

about a relationship


Masa sih kamu belum pernah pacaran?
Begitulah rata-rata orang yang baru kenal dan baru tahu kalau aku belum pernah pacaran sekalipun. Ya, jomblowan sejati. Memang zaman sekarang pacaran itu mungkin bukan sesuatu yang aneh. Anak-anak usia SD pun sekarang pasti ada yang sudah berpacaran.
Pacaran sekarang dianggap suatu kebutuhan, seperti beberapa orang temanku, mereka terlihat benar-benar menderita ketika tidak punya pacar lebih dari 1 bulan bahkan ada yang baru 3 hari menjomblo tapi sudah uring-uringan. Bahkan terlihat lebih menderita daripada saat mereka tidak punya uang, salah seorang dari mereka sempat kutanya kenapa bisa seperti itu dan jawabannya cukup mengejutkan. Dia menjawab kalau tidak punya pacar tidak punya kegiatan untuk mengisi waktu. Jawaban yang sama sekali tidak beralasan menurutku.
Kebanyakan anak muda zaman sekarang menganggap pacaran adalah suatu kebutuhan, padahal kebutuhan mereka sebenarnya adalah hanya ingin memiliki seseorang yang bisa membantu mereka mengisi waktu mereka. Itu adalah alasan yang mereka katakan kepadaku. Sungguh ironis memang, saat ini banyak orang lebih memikirkan bagaimana bisa mendapatkan pacar daripada berpikir bagaimana menjalani hidup. Pacaran memang tidak salah, namun yang salah adalah apa yang menjadi alasan untuk mereka berpacaran.
Berdasarkan analisis ku selama mendengarkan curhatan-curhatan teman-temanku. 70% dari mereka bermasalah dengan pacar mereka karena ketidakpuasan mereka terhadap sikap sang pacar. Seperti sikap ketidakpuasan pelanggan kepada pelayan restoran yang tidak bisa memenuhi keinginan pelanggannya. Dan itu terjadi karena kesalahan persepsi mereka terhadap maksud dari pacaran itu. Mereka yang memiliki persepsi bahwa pacaran itu harus selalu mendapatkan perhatian dari sang pacar, sang pacar harus selalu stand by saat pacarnya membutuhkan, menganggap bahwa pacar mereka hanyalah milik mereka seorang tak ada orang lain yang boleh dekat bahkan ketika sang pacar berbicara empat mata dengan lawan jenis atau sekedar sms-an atau mengangkat telepon dari orang lainpun mereka bisa marah dan tidak terima. Tidak memberi kabar selama 1 jam saja langsung menjadi masalah, tidak bisa datang pada saat pacar butuh teman atau sekedar ingin jalan-jalan langsung perang dingin, telat balas sms atau telat angkat telpon marah.  Salah bicara padahal hanya bercanda langsung berkoar pedas seperti pada orang yang selalu mengejek dan menjelek-jelekkan namanya setiap hari.
Yang mereka butuhkan dari pacar sebetulnya hanya satu, yaitu sebagai tempat untuk mengisi waktu mereka. Ketika sang pacar tidak mampu menemani pacarnya ketika dia kebingungan menghabiskan waktu, anda pasti sudah dapat membayangkan apa yang terjadi. Dan itulah keironisan yang sedang booming saat ini. Semuanya terjadi karena kebiasaan mereka yang salah, dengan memanfaatkan orang lain untuk menyenangkan diri sendiri, saya berani berspekulasi 70% dari orang yang pacaran ketika mereka memikirkan ingin pacaran yang mereka pikirkan adalah ingin membuat dirinya bahagia, jarang dari mereka yang menjawab untuk kebahagiaan saya dengan pacar saya. Hampir semua dalam hati kecil mereka menjawab karena saya ingin blablablablabla… itu tandanya anda telah merampas kebebasan orang lain untuk kesenangan anda sendiri.
Memang tidak semua mereka yang memiliki pacar akan berlaku seperti itu, banyak dari mereka yang sampai sekarang telah menikah dengan pacar mereka. banyak dari mereka yang memang mampu saling menjaga dan saling mengerti, tidak termakan keegoisan diri sendiri, tidak memikirkan diri sendiri mereka lebih berorientasi pada kebahagiaan pasangannya daripada dirinya sehingga pada akhirnya mereka akan saling membahagiakan dalam keadaan apapun itu.
Menurut saya pacaran itu adalah sebuah media untuk kita belajar berjalan dengan orang lain yang sama-sama belum bisa berjalan, bukan sebagai tempat untuk mencari kebahagiaan. Karena ketika kita mampu untuk belajar berjalan dengan orang lain yang belum bisa berjalan kita akan saling menguatkan karena sama-sama mengerti dengan kekurangan kita yang sama-sama tidak bisa berjalan. Jika kita kelelahan dia bersedia untuk menunggu kita hingga kita mampu untuk berdiri kembali, jika kita terjatuh dia bersedia untuk membangunkan kita dan membersihkan bagian tubuh kita yang kotor,ketika dia terjatuh kitapun bersedia membangunkan dan membersihkan bagian tubuh dia yang kotor, dia lelah kita bersedia menunggu hingga dia mampu berdiri kembali. Ketika salah satu diantara mereka tak mampu lagi berjalan salah satunya lagi dengan ikhlas dan tanpa diminta akan berusaha mengobati dan menopang  tubuhnya. Pacaran juga merupakan media untuk kita belajar mengendalikan emosi, melawan kekurangan kita, melatih keikhlasan, melatih kesabaran dan membuat kita terbiasa dengan kesedihan dan kebahagiaan.
Sayapun banyak belajar dari teman-teman saya yang pernah memiliki pacar tentang bagaimana mengkondisikan perasaan dan emosi kita untuk mencapai tujuan kita berdua. Yaitu menikah. Namun bagi saya berpacaran adalah hal yang sangat sacral dan tidak boleh dilaksanakan secara sembarangan. Saya hanya akan berpacaran dengan orang yang telah saya kenal baik watak dan perilakunya, tanggung jawab saya sebagai laki-laki mengharuskan saya berpikiran seperti itu. Mengikat seseorang dengan ikatan pacar adalah seperti mengajak anak kecil untuk bermain di tempat yang jauh. Orang tua dan orang terdekat mereka mempercayakan dia untuk kita jaga dan dia mempercayakan saya untuk menjaga dirinya.
Sekali lagi, tanyakan pada diri anda, pada hati keil anda. Untuk apa anda berpacaran untuk apa anda berikatan dengan seseorang, jika jawaban hati kecil adalah sebuah alasan maka saya sarankan anda untuk segera mencari jawaban atas pertanyaan itu, bukan alasannya.
“Benarkanlah persepsi anda tentang suatu hal sebelum anda mengambil sikap terhadap hal tersebut, karena persepsi yang salah akan menyebabkan cara bersikap yang salah dalam menjalani suatu hal.”

-G.P.P, sukamaju 160512-

Senin, 14 Mei 2012

takdir dan kehidupan


Takdir…
 Anda pasti pernah atau bahkan sering mendengar kata ‘takdir’. Anda tau apa itu takdir? Ya, takdir adalah segala sesuatu yang terjadi pada kita yang telah ditetapkan oleh tuhan. Baik itu sesuatu yang menyenangkan ataupun menyedihkan bagi kita, namun jika sudah takdir tuhan maka pasti sesuatu tersebut menimpa diri kita. Namun kebanyakan manusia kurang tepat dalam menyikapi takdir tersebut, banyak diantara mereka yang menganggap segala sesuatu adalah takdir yang telah ditentukan. Memang benar semua yang terjadi pada kita telah direncanakan oleh tuhan, lantas apakah anda benar-benar mengetahui apa yang tuhan rencanakan kepada hidup anda?
Ada dua macam takdir manusia, yang pertama takdir yang bisa kita rubah dan takdir yang tidak bisa kita rubah. Seorang perem[uan diciptakan di dunia ini sebagai seorang ibu yang mengandung dan melahirkan seorang anak, itu adalah takdir tuhan yang tidak bisa dirubah oleh siapapun dan apapun. Seorang anak pemulung dapat belajar di UNiversitas terkenal dan ternama di Indonesia, itu adalah takdir yang bisa dirubah sesuai dengan keinginan dan keteguhan anaka tersebut dalam memperjuangkan takdirnya. Tentu gambaran masing-masing orang tentang takdir berbeda-beda. Tergantung keimanan dan pengetahuan mereka tentang hidup.
Banyak saya temukan diantara teman-teman saya yang dengan mudahnya menganggap segala sesuatu sudah ditakdirkan, sehingga mereka tidak memiliki keinginan yang besar untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Mereka menganggap kegagalan yang mereka alami adalah takdir tuhan, memang benar namun kembali kepada pertanyaan yang saya tanyakan pada awal paragraph, apakah kita benar-benar tahu rencana tuhan mengenai hidup kita? Saya yakin jawabannya pasti tidak, tidak ada seorangpun didunia ini yang mengetahui rencana tuhan untuk setiap mahluknya. Namun satu yang saya yakini tuhan merencanakan kepada setiap manusia agar mereka dapat belajar arti berusaha, bersabar dan bertawakal. Berusaha dengan sekuat tenaga, sampai kaki kita benar-benar tidak bisa berjalan lagi sekalipun kita harus tetap berusaha. Ketika usaha kita tidak menghasilkan apa yang kita harapkan kita akan belajar sabar. Sabar untuk tetap terus berusaha dan menjalani hidup dengan penuh rasa syukur. Kunci dalam hidup ini adalah kesabaran. Ketika kita dibekali dengan kesabaran yang luar biasa, maka kita akan menjadi orang yang paling damai. Sabar juga merupakan usaha, usaha untuk menguasai diri kita dalam mengejar tujuan kita. Terakhir adalah tawakal, menyerahkan dengan sepenuhnya hasil dari usaha kita kepada tuhan. Percaya bahwa tuhan sudah mempunyai rencana dibalik kesedihan kita, kesenangan kita, penderitaan kita dan kesenangan kita. Semua hanya berasal dari tuhan semata, kita hanya mampu berusaha sebaik-baiknya. 

pengalaman hidup


Setelah pada artikel sebelumnya saya menjelaskan bagaimana memilih tujuan hidup yang baik sesuai dengan persepsi dan kepercayaan kita. Kali ini saya akan bercerita mengenai tujuan-tujuan hidup saya dalam hidup ini dan lika-liku perjalanan dalam mengejar dan menentukan tujuan saya. Semoga anda sudah menemukan tujuan hidup anda yang paling besar dan paling baik untuk diri anda dan orang-orang yang anda sayangi.
Sebelumnya perkenalkan dulu nama saya Galih Permana Putra, anda bisa memanggil saya dengan nama Galih, Aih, Mbe, Kaming, Sutet, atau PePe. Mungkin anda agak sedikit aneh dengan nama-nama panggilan saya. Namun nama-nama itulah yang paling sering teman-teman saya gunakan untuk memanggil saya dan semua nama itu memiliki sejarah masing-masing sehingga saya tidak menghilangkan satupun nama panggilan saya karena saya ingin selalu mengenang dan tidak melupakan apa yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Saya seorang anak yatim piatu, ayah saya meninggal ketika saya masih berumur sekitar 5-6 tahun dan ibu saya meninggal ketika saya SMP kelas 1. Dan sekarang saya berumur 21 tahun, kuliah di salah satu PTS di Tasikmalaya. Di dunia ini saya hidup bersama 2 orang adik laki-laki dan 2 orang kakak perempuan dan nenek saya tercinta yang telah mengayomi dan membimbing saya selama ini.
Saya memiliki cita-cita pertama saya pada saat SD kelas 1, itupun karena setiap murid di kelas saya ditanya oleh guru kelas mengenai cita-cita mereka bukan karena keinginan dan hasil pemikiran saya, dan saya menjawab ingin menjadi seorang guru. Kenapa saya menjawab seperti itu? Entahlah, kata “guru” itulah yang pertama kali saya ingat. Mungkin karena kedua orang tua saya seorang guru sehingga saya akrab dengan kata “guru” tersebut. Namun seperti anak-anak SD pada umumnya cita-cita itu tak bertahan lama kemudian saya berganti cita-cita ingin menjadi seorang polisi karena seorang keluarga saya melihat postur tubuh saya sewaktu kecil dulu terlihat besar dan kekar, walaupun sekarang lebih seperti ‘ayam boyler’, besar tapi lembek. *Hehe :D*. Itulah cita-cita kedua saya dan cita-cita pertama yang murni hasil dari pemikiran dan keinginan pribadi saya.
Waktu berlalu dari SD hingga SMA, setelah berjuang mengatasi rasa kehilangan karena kematian ayah dan ibu saya dengan berbagai cara dari mulai kenakalan-kenakalan remaja saat itu seperti minum-minuman keras, nongkrong sana nongkrong sini demi mencari pengganti rasa kesepian dan kesedihan saya. Masa-masa SD-SMA kelas 2 saya lewati tanpa ada sesuatu yang berarti. Sampai saya menginjak kelas 2 SMA tepatnya pada semester 2. Saya dididik oleh beberapa orang guru yang luar biasa, mengajarkan kepada murid-muridnya mengenai kehidupan, mengenai pencarian jati diri, mengenai ketabahan, mengenai kegigihan, mengenai tanggung jawab dan mengenai cita-cita. Ada satu kejadian yang saya masih ingat persis sampai sekarang, yaitu ketika saya di remedial ulangan mata pelajaran Biologi selama 5 kali dan tidak pernah bisa lulus. Namun itulah yang membuat saya sadar setelah mendapatkan ceramah dari guru Biologi saya saat itu Ibu Hj. Iis namanya. Dari sanalah saya mulai berpikir tanggung jawab dan menerima resiko dari apapun yang saya lakukan. Kepala saya secara otomatis langsung terhubung dengan cepat seperti koneksi Wi-Fi di Gedung DPRD yang sering saya gunakan untuk browsing dan menimbulkan beberapa karakter pada layar pikiran saya. Kenapa  saya hidup? Untuk apa saya hidup? Kenapa saya sekolah? Kenapa saya begini? Kenapa saya begitu? Dan pertanyaan-pertanyaan lain mengenai kehidupan saya. Jawaban yang saya temukan saat itu hanya dapat menjawab dua pertanyaan saja yaitu saya hidup karena saya dilahirkan oleh Allah melalui rahim ibu saya, dan saya sekolah karena ingin mendapatkan ilmu yang bisa saya gunakan untuk mendapatkan pekerjaan saat nanti saya sudah dewasa. Sedangkan pertanyaan-pertanyaan lain tidak bisa saya jawab.
Ketika kelulusan SMA dan sebelum mendaftar ke perguruan tinggi, pada saat itulah saya mulai berpikir mengenai apa yang saya inginkan dalam hidup ini khususnya dalam keprofesian yang ingin saya miliki nanti. Saat itu saya teringat dengan cita-cita saya sewaktu SD yaitu menjadi guru dan saat ini saya memiliki mata pelajaran yang sangat saya senangi yaitu Biologi. Setelah berdiskusi dengan kakak-kakak saya dan mereka memberikan kebebasan kepada saya untuk memilih  jurusan dalam jenjang pendidikan saya yang berikutnya yaitu ke perguruan tinggi, saya memutuskan untuk mengikuti tes masuk di tempat saya kuliah sekarang dengan mengambil pilihan jurusan pertama pada FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Biologi dan pilihan kedua pada FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat). Minat saya dalam pelajaran biologi memang cukup besar saat itu. Namun Allah berkehendak lain, saya gagal masuk ke jurusan Biologi dan saya masuk ke Fakultas Kesehatan Masyarakat, tak apalah dalam ilmu kesehatan juga tetap ada pelajaran biologi. Sedikit menghibur hati saya.
Setelah satu semester saya masuk kuliah, saya mengikuti OTC (Organitation Training Centre) yang diadakan oleh BEM fakultas saya. Dan menjadi anggota OR (Open Recruitment) selama ± 1 tahun. Pada saat menjadi anggota OR inilah kehidupan saya benar-benar berubah 180˚. Sangat amat banyak pelajaran mengenai kehidupan yang saya dapat selama menjadi OR. Menjadi anggota OR selama satu tahun mampu membuat saya mengenali diri saya, pertanyaan-pertanyaan saya sewaktu SMA dulu mengenai kehidupan saya terjawab semua. Saya berubah menjadi seseorang yang dewasa, bertanggung jawab dan bisa bekerja sama dengan orang lain, tegas, dan rajin (menurut teman-teman saya). Saya juga bisa mengenali diri saya yang keras kepala, kekanak-kanakan pada saat-saat tertentu, plin-plan, kurang bisa mengatur keuangan dan waktu dan lain sebagainya. Semua itu saya dapatkan setelah saya menjalani kehidupan di organisasi. ada satu kalimat yang sampai sekarang masih membuat saya heran.
“Diri kita saat ini, hari ini adalah hasil dari apa yang kita dapatkan pada masa lalu dan hari kemarin dan yang kita dapatkan itu berasal dari pelajaran yang kita sadari penerimaanya dan tidak kita sadari penerimaannya selama menjalani hidup”.
Saya sama sekali tidak berpikir bahwa semua yang terjadi pada saya sewaktu kecil sampai saat itu membantu saya membentuk karakter pribadi saya. Karena selama ini saya hanya menjalani hidup mengikuti apa yang telah Allah takdirkan tanpa memikirkan manfaatnya pada diri saya. Saya bersyukur kepada Allah atas apa yang telah Dia berikan pada hidup saya.
Sejak saat itu saya mulai menyusun cita-cita saya dikemudian hari beserta dengan batas-batas dan indicator yang harus saya capai sebagai tanda kesuksesan saya dalam mengejar cita-cita saya. Semuanya tergambar jelas dalam benak saya, apa saja yang akan saya lakukan selama kuliah dan apa yang saya lakukan pada saat setelah lulus kuliah demi mencapai cita-cita yang telah saya tanam sendiri dalam batin saya. Cita-cita tak perlu dikatakan atau diungkapkan pada orang lain, jika seseorang bercita-cita mendapatkan sesuatu dan memiliki keinginan untuk memperjuangkan cita-citanya itu, akan terlihat dengan sendirinya ketika kita bersikap dan mengambil tindakan dalam menjalalni kehidupan ini. Karena orang yang memiliki keinginan untuk memperjuangkan cita-citanya pasti memiliki suatu aturan tak tertulis dalam memilih apa yang akan mereka lakukan. Dan ingat jangan pernah menyerah dan jangan pernah kalah dengan semua keterbatasan yang kita miliki di dunia ini. Putus asa hanya berlaku untuk orang-orang ‘bodoh’. Tak ada yang tidak mungkin didunia ini selama kita mau berusaha. Dan ketika kaki kita tak mampu lagi melangkah, mulut kita tak mampu lagi berucap, mata kita tak mampu lagi menatap api semangat, telinga kita tak mampu lagi mendengar teriakan semangat, hanya satu yang bisa kita lakukan “bertawakalah !!” percayakan semua pada Allah. Dzat yang telah menciptakan kita dengan takdir yang telah Dia tetapkan. Berdo’a dan berusahalah sampai batas terakhir kemampuan kita. Semua yang kita usahakan Insyaallah akan mendapat hasil yang sesuai dengan usaha yang kita lakukan.

tujuan hidup


Semua yang kita lakukan dalam hidup ini pasti mempunyai tujuan baik itu hal-hal yang kecil maupun hal yang besar. Selalu ada alasan dibalik cara kita dalam bersikap. Misalnya saja, seorang anak yang berumur 5 bulan akan menangis bila dia sedang menginginkan satu hal seperti ingin di gendong ibunya atau apapun yang berhubungan dengan hal yang bias membuat dia senang namun karena anak kecil itu belum bisa bicara maka cara penyampaian keinginannya ia sampaikan lewat tangisan. Seorang anak kecil yang belum bisa bicarapun sudah dapat melakukan sesuatu untuk mendapatkan tujuan yang diinginkannya.
Itu salah satu contoh yang sangat kecil namun mungkin ada beberapa dari anda belum memahami hal tersebut. Sekarang kita konversikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Adakah hal-hal yang anda lakukan tanpa mempunyai tujuan? Apakah hal-hal yang kita pikirkan itu bukan untuk memenuhi kebutuhan kita? Saya rasa hampir 100% dari apa yang kita lakukan memiliki tujuan tertentu apapun itu tujuannya.
Setiap manusia yang hidup dibumi secara alami memiliki sesuatu yang disebut dengan hasrat untuk mendapatkan sesuatu yang disebut dengan tujuan atau cita-cita atau maksud atau harapan atau apapun yang menggambarkan suatu keinginan. Anda suka makan? Untuk apa anda makan? Anda suka jajan? Untuk apa anda jajan? Anda membuka pintu rumah? Untuk apa anda membuka pintu rumah? Anda menonton televisi? Untuk apa anda menonton televisi?
Dari pertanyaan-pertanyaan diatas apakah ada jawaban anda yang tidak dilandaskan atas keinginan yang tidak lain adalah inti dari sebuah tujuan. Pertanyaan itu berasal dari hal-hal kecil yang telah menjadi rutinitas anda dalam kehidupan. Sekarang kita beranjak ke hal-hal yang lebih besar. Anda bekerja? Untuk apa anda bekerja? Untuk apa anda bekerja disana? Anda sekolah? Untuk apa anda sekolah? Untuk apa anda sekolah disana? Anda menikah? Untuk apa anda menikah? Untuk apa anda menganut suatu agama? 
Apakah ada jawaban anda dari pertanyaan-pertanyaan barusan yang tidak dilandaskan suatu keinginan?
Jika ya, maka dapat saya katakan anda adalah salah satu dari beribu miliar manusia yang benar-benar hidup. Namun kesimpulan saya itu hanya berlaku bagi orang-orang yang memiliki tujuan hidup yang luhur, tidak mementingkan kepentingan pribadi dan tidak didasarkan atas hasrat yang berlebihan.
Kenapa saya mengatakan hal itu? Karena sebetulnya dalam hidup ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh tiap orang yaitu memiliki tujuan atau cita-cita. Untuk apa anda hidup jika anda tidak memiliki cita-cita? Anda hanya akan menjalani kehidupan kosong yang tidak memiliki arti sama sekali.
Tujuan hidup seseorang tidak selalu merupakan tujuan yang baik. Adakalanya seseorang memiliki tujuan yang buruk, misalnya anda bekerja sebagai anggota dewan untuk mendapatkan uang dari hasil korupsi atau ingin memiliki kendaraan bermotor hanya demi dipandang orang yang mampu tanpa melihat kondisi ekonomi anda atau keluarga anda. Banyak hal yang harus kita ketahui sebelum menentukan tujuan hidup anda. Jika salah menentukan tujuan maka anda akan salah juga dalam melakukan suatu hal dan tentu saja hasil yang salah walaupun tujuan anda tercapai.
Anda semua pasti sudah memahami apa yang saya maksudkan dalam salah-benarnya suatu tujuan. Penilaian salah-benar suatu tujuan tergantung dari persepsi seseorang mengenai kehidupan. Jika anda seorang yang menganggap yang berkuasa dalam kehidupan itu adalah uang, uang dan uang tentu anda akan membenarkan ketika anda bertujuan memiliki uang yang banyak tanpa melihat halal-haramnya uang tersebut sehingga ketika anda merampas hak orang lain anda tidak merasa bersalah karena tujuan anda hanya mendapatkan uang. Berbeda jika anda seorang yang berpersepsi bahwa hidup bukan hanya untuk uang tapi juga untuk mendapatkan ridho Allah (jika anda beragama islam), walaupun pada akhirnya tujuan anda sama yaitu mendapatkan banyak uang namun cara dalam mewujudkan cita-cita tersebut dalam jalur yang sesuai dengan aturan-aturan agama yang anda anut.
Jadi sebelum anda menentukan apa tujuan hidup anda matangkan dulu persepsi anda mengenai hidup ini, analisis terlebih dulu apakah persepsi kita selama ini mengenai hidup itu sudah berada pada jalur yang benar atau belum. Pelajari norma-norma yang ada di masyarakat kita, pelajari agama anda dengan lebih dalam lagi karena dapat mencapai tujuan hidup anda saja itu tidak cukup, namun harus disertai dengan proses dan cara yang benar dalam mengejar tujuan hidup anda agar anda tidak menjadi orang yang salah langkah.